Oksigen Langka, Pemerintah Sebut Masyarakat Panic Buying

Siti Fatimah - detikFinance
Senin, 12 Jul 2021 13:59 WIB
Menko PMK, Muhadjir Effendy
Foto: Dok Kemenko PMK
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengakui, saat ini terjadi panic buying oksigen yang dilakukan masyarakat.

Kondisi tersebut menyusul kelangkaan tabung gas oksigen dan oksigen untuk penanganan pasien COVID-19 di rumah sakit dan sebagian lainnya yang melakukan isolasi mandiri.

"Saat ini telah terjadi sedikit panic buying di masyarakat. Mereka panik sehingga membeli oksigen dan menyimpannya di rumah untuk berjaga-jaga," kata Muhadjir dalam keterangan tertulisnya, Senin (12/7/2021).

Lebih lanjut, kondisi tersebut akhirnya membuat pemerintah harus menerima bantuan dari negara lain. Seperti diketahui, RI mendapat bantuan dari negara tetangga sebanyak 756 oksigen silinder, 600 oksigen konsentrator, 220 ventilator.

Di samping itu, Indonesia juga memesan 10 ribu unit oksigen penetrator dan sudah 30 unit yang datang. "Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar dan yakinlah karena Indonesia ini negara baik suka menolong saat negara-negara tetangga membutuhkan, pastilah juga akan banyak yang menolong saat mendapatkan kesusahan," ujarnya.

Selain mendapat bantuan dari negara lain salah satunya Singapura, Muhadjir pun menilai jiwa gotong royong masyarakat masih muncul di tengah pandemi untuk saling membantu. Meski terjadi panic buying, masyarakat akan memberikan bantuan bagi tetangganya yang membutuhkan.

"Untuk mereka yang kebetulan oksigennya belum terpakai, kalau ada tetangganya yang membutuhkan, mengulurkan tangan untuk bisa menyumbangkan atau meminjamkan oksigen yang ada di rumahnya masing-masing," tuturnya.

Dia menilai cara itu cukup efektif, mengingat pemerintah saat ini masih tengah mengupayakan pemenuhan kebutuhan oksigen terutama untuk RS-RS yang merawat pasien COVID-19 dan tempat-tempat isolasi kolektif.

Namun menurutnya, tak kalah penting bagi rumah sakit atau pihak-pihak yang bertanggung jawab harus lebih dahulu memastikan bahwa mereka yang dirujuk untuk melakukan isoman benar-benar memiliki gejala ringan atau OTG dan tidak memiliki kemungkinan eskalasi dari penyakit yang diderita.

(eds/eds)