Kiprah Petani Subang yang Ekspor Kopi ke Korsel hingga Arab Saudi

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 12 Jul 2021 19:10 WIB
Petani memanen kopi arabika Gayo di Takengon, Aceh Tengah, Aceh.
Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA
Jakarta -

Ekspor merupakan salah satu cara untuk menggerakkan ekonomi nasional. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan daya saing komoditas melalui program Desa Devisa.

Direktur Eksekutif LPEI D. James Rompas mengungkapkan Desa Devisa ini mendampingi dan mengembangkan kapasitas pelaku usaha berorientasi ekspor. Setelah Bali dan Yogyakarta, ada juga Desa Devisa di Kabupaten Subang, Jawa Barat.

James menyebut Desa Devisa diharapkan bisa memberdayakan masyarakat dengan mendorong kemandirian petani kopi melalui rangkaian pelatihan, pendampingan serta pemanfaatan jasa konsultasi, sehingga mampu merambah pasar ekspor kopi dunia dengan produk yang berkualitas.

Ada lebih dari 200 petani kopi yang berada di bawah binaan Koperasi Gunung Luhur Berkah yang akan didampingi oleh LPEI. Petani tersebut berasal dari desa Cisalak, Nagrak, Cupunagara, Darmaga, Sukakerti, dan Pasanggrahan.

Produk unggulan mereka adalah Arabika (Java Preanger) dan Robusta. Kapasitas produksi keenam desa mencapai lebih dari 100 ton biji kopi setiap tahunnya dengan luas kebun 140 hektare.

"Kami yakin dengan program pelatihan selama 6 bulan ke depan bisa meningkatkan kapasitas petani, sehingga kualitas biji kopi bisa memenuhi kebutuhan ekspor. Kolaborasi antara Koperasi GLB dan Pemerintah Daerah Subang diharapkan bisa menjadi solusi awal di tengah kondisi pandemi yang dihadapi," kata dia, Senin (12/7/2021).

Ketua Koperasi GLB Miftahudin Shaf mengungkapkan dengan program Desa Devisa ini kopi dapat diekspor dan terkenal hingga mancanegara dan petani dapat merasakan manfaat ekonomi dan sosial secara langsung. Miftahudin mengungkapkan petani di koperasinya percaya diri bisa menghadapi tantangan di pasar internasional.

"Hasil ekspor yang bisa menyumbang devisa negara ini tentunya menjadi semangat kami untuk menyukseskan Desa Devisa. Pendampingan juga memberikan teknis dari hulu sampai hilir, didukung permodalan sampai akses pasar yang lebih luas," jelas dia.

Dia menyebut desa Cupunagara secara geografis terletak di 1.200 mdpl. Merupakan wilayah sejuk dan luas yang tinggi di Kabupaten Subang. Potensi Cupunagara sangat besar dengan tersedianya lahan luas untuk budi daya kopi. Kebanyakan petani menggunakan lahan milik Perhutani.

Pertanian kopi ini sudah berjalan sejak 2015 di mana kegiatan Koperasi GLB ini berjalan pada 2016. Koperasi GLB berupaya untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat yang berbudi daya kopi.

Dari sisi lingkungan hidup, budi daya kopi ini juga memerangi global warming dengan menambah vegetasi hutan di lahan tersebut. Miftahudin menyebutkan saat ini petani kopi sudah mengekspor ke Taiwan, Korea Selatan, Australia, dan dalam waktu dekat akan melaksanakan kontrak ke Arab Saudi sebanyak 150 ton.

"Dengan Desa Devisa ini kami sangat menaruh harapan. Support permodalan, pendampingan teknis dan yang tak kalah penting mencarikan pasar baru baik lokal maupun internasional," jelas dia.

Ketua Poktan Penangkar Benih GLB Eni Fitriani mengharapkan dengan pendampingan ini, petani kopi di Subang bisa lebih berkembang.

"Desa Devisa diharapkan bisa membantu kami untuk mengakses permodalan agar bisa menjadi lebih besar dan akhirnya hasil panen kopi bisa memenuhi permintaan pasar lokal dan pasar dalam negeri," jelasnya.

Bupati Subang H Ruhimat mengungkapkan Desa Devisa diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu dia menginginkan kopi Subang bisa mendunia dan menjadi jalan untuk terciptanya Subang Jaya, Istimewa, dan Sejahtera," jelas dia.

(kil/ara)