Sri Mulyani Bicara Perubahan Iklim dan Tatanan 'Dunia' Baru

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 27 Jul 2021 10:45 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Perubahan iklim merupakan ancaman nyata untuk dunia. Negara di belahan dunia manapun pasti akan menghadapi kondisi perubahan ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam keynote speech di ESG Capital Market Summit 2021. Sri Mulyani juga menyampaikan jika saat ini seluruh dunia sedang berikhtiar untuk menghindarkan dampak katastrofik dari perubahan iklim ini.

"Momentum ini sekarang meningkat dalam beberapa pertemuan para pemimpin dunia," kata dia dalam sambutannya, Selasa (27/7/2021).

Sri Mulyani mengungkapkan apalagi Indonesia merupakan salah satu negara besar baik dari sisi geografi, jumlah penduduk, size ekonomi. Hal ini membuat Indonesia akan menjadi negara yang diperhitungkan dan partisipasi untuk menangani risiko perubahan iklim ini.

Menurut dia emisi karbon di seluruh dunia ini dihasilkan oleh siapapun di dunia. "Maka kita harus mampu mendudukan Indonesia di dalam konteks ancaman global ini dan sekaligus mendudukan Indonesia di dalam konteks kesiapan kita. Sehingga kita tidak didikte, tapi kita justru ikut membentuk apa yang disebut tatanan global baru," jelasnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menyebutkan Indonesia memang tidak seharusnya dalam situasi selalu menunggu dan defensif. Ketika negara lain atau otoritas lain membuat regulasi Indonesia masih tergopoh-gopoh.

Dia menyampaikan perubahan iklim ini adalah bencana alam yang magnitude-nya diperkirakan sama dengan COVID-19. Menurut dia, perubahan iklim adalah ancaman yang nyata untuk dunia bahkan telah dipelajari oleh berbagai ilmuwan yang menggambarkan bahwa dunia ini mengalami pemanasan global.

Hal ini karena semakin seluruh negara di dunia melakukan pembangunan maka akan semakin sejahtera. Mobilitas masyarakat semakin tinggi, penggunaan energi semakin besar dan tekanan terhadap sumber daya alam menjadi sangat nyata.

Seluruh kegiatan tersebut menghasilkan karbon CO2 yang mengancam dunia dengan kenaikan suhu. "Dunia saat ini sedang berlomba-lomba untuk mengindarkan agar suhu dunia tidak naik 1 1/2 derajat untuk menghindarkan implikasi katastrofik dari kenaikan suhu atau temperatur dunia ini," jelas dia.

Menurut Sri Mulyani, perubahan iklim ini akan mempengaruhi semua makhluk di dunia. "Sama seperti pandem, tidak ada satu negara yang bisa escape atau bebas dari ancaman perubahan iklim ini," ujarnya.

(kil/das)