Parah! COVID-19 Rampas Rp 1.356 Triliun dari Indonesia

Trio Hamdani - detikFinance
Sabtu, 31 Jul 2021 12:30 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Parah! COVID-19 Rampas Rp 1.356 Triliun dari Indonesia
Jakarta -

Pandemi virus Corona (COVID-19) membuat Indonesia kehilangan Rp 1.356 triliun dari produk domestik bruto (PDB) tahun 2020. Itu merupakan implikasi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terkontraksi atau negatif 2,07% di tahun lalu.

"PDB kita turun, turunnya berapa banyak? minus 2,07% dibandingkan tahun 2019. Itu kalau kita rupiahkan kira-kira berapa? kira-kira Rp 1.356 triliun kita kehilangan PDB di tahun 2020," kata Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara dalam webinar, Sabtu (31/7/2021).

Kondisi tersebut disebabkan oleh pembatasan kegiatan dalam rangka menekan penyebaran penularan virus Corona.

"Karena pembatasan-pembatasan itu membuat konsumsinya, investasinya turun, ekspor impor turun, sementara yang positif itu hanya pengeluaran pemerintah. Pengeluaran pemerintah yang positif yaitu adalah karena kita melakukan realokasi belanja tadi termasuk pemulihan ekonomi nasional," paparnya.

Apa yang dihadapi dunia termasuk Indonesia saat ini, dijelaskannya adalah masalah kesehatan yang diakibatkan penyebaran virus. Pemerintah harus menanganinya dengan cara yang tidak biasa atau extra ordinary.

"Bagaimana itu? ya itu jangan sampai kena virus. Supaya tidak kena virus kita melakukan pembatasan-pembatasan kegiatan ekonomi dan kegiatan sosial," sebutnya.

Pembatasan yang dilakukan itu berdampak tak hanya kepada masalah kesehatan, tapi juga sosial, ekonomi, dan keuangan.

"Kita tahu persis nih kalau teori ekonomi kita bilang: kalau melakukan pembatasan kegiatan ekonomi maka konsumsi turun, maka investasi turun, maka ekspor impor turun," jelas Suahasil.

Pada kondisi semacam itu, yang bisa diandalkan untuk mempertahankan PDB adalah belanja pemerintah melalui instrumen APBN.

"Karena orang nggak bisa pergi belanja, belanjanya jadi terbatas. Investasi apalagi, orang jadi khawatir untuk investasi pada saat pandemi. Ekspor impor juga mengalami pembatasan maka PDB bisa anjlok. Kalau PDB-nya anjlok siapa yang bisa menahan? yang bisa menahan itu government expenditure (belanja pemerintah)," tambahnya.

(toy/fdl)