Top! Pria Ini Bikin Warga Tambah Cuan Lewat Kemasan dari Pelepah Pinang

Aulia Damayanti - detikFinance
Sabtu, 31 Jul 2021 19:00 WIB
Pelepah Pinang Jadi Pengganti Styrofoam
Pelepah Pinang Jadi Pengganti Styrofoam/Foto: Instagram/plepah_id
Jakarta -

Pelepah pohon pinang bisa dimanfaatkan menjadi produk bernilai. Pelepah pinang bisa dimanfaatkan menjadi kemasan makanan ramah lingkungan oleh Rengkuh Banyu Mahandaru.

Melalui usahanya bernama Plepah Indonesia, Rengkuh melibatkan petani pinang hingga masyarakat umum untuk memproduksi kemasan makanan ramah lingkungan. Di mana fokus utama Rengkuh menggantikan kemasan makanan styrofoam.

Hingga kini dia mengungkap telah membantu meningkatkan pendapatan masyarakat yang terlibat dalam pengolahan pelepah pinang menjadi kemasan makanan sekali pakai, sebesar Rp 750 ribu hingga 1 juta per bulannya.

"Dampak langsung kepada masyarakat atau impact langsung, bahwa kami sudah bisa meningkatkan income masyarakat mulai dari Rp 750 ribu sampai Rp 1 juta. Tetapi kami tidak menggeser profesi mereka sebagai petani," ujar Rengkuh, dalam acara Festival Ide Bisnis by Xpora yang digelar detikcom dan BNI, Sabtu (31/7/2021).

Salah satu Entreprneur Heroes BNI ini bercerita bisnis kemasan makanan dari pelepah pinang itu dimulai pada Desember 2018. Saat itu dia berfokus membangun bisnisnya dengan melibatkan masyarakat di Sumatera khususnya Desa Teluk Kulbi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi dan Desa Mendis, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Dengan banyaknya petani pinang di sana, Rengkuh tidak hanya ingin membangun bisnis, tetapi ingin masyarakat di sana untuk ikut memproduksi bahkan memasarkan sendiri kemasan makanan sekali pakai itu. Agar masyarakat pedesaan itu bisa memberikan solusi kepada masyarakat kota akan kemasan ramah lingkungan.

"Kami melakukan pendampingan finansial, pendampingan knowledge untuk pengolahan, hingga pengolahan materialnya, agar nanti mereka mampu memasarkan produknya. Tentu dengan pendampingan kami juga," kata Rengkuh.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Segala pendampingan itu dibentuk dalam sebuah koperasi. Tidak hanya pendampingan tetapi Rengkuh dan timnya juga menyediakan alat-alat untuk produksi yang mudah digunakan oleh masyarakat setempat.

"Kami coba proses membangun koperasi ini dengan matang, dari keuangan sampai dengan distribusi kami juga mencoba menyediakan alat-alat produksi yang lebih efisien dan adaptif dan digunakan sederhana oleh masyarakat," kata Rengkuh.

Rengkuh pun meluruskan dengan melibatkan masyarakat dalam produksi kemasan sekali pakai dari pelepah pinang, dirinya tidak mengambil waktu masyarakat yang dominasi bekerja sebagai petani. Tetapi hanya mempergunakan waktu kosong petani agar lebih produktif dan bisa menghasilkan pundi-pundi uang.

"Kami ini mengoptimalisasi waktu petani, dari biasanya mereka ke ladang dari jam 6 pagi sampai 11 siang. Waktu sisa itu kami coba untuk isi dengan memproduksi pelepah," kata Rengkuh.

Tujuan Rengkuh membangun bisnis ini untuk mencari alternatif kemasan makanan yang ramah lingkungan untuk mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai yang berdampak pada pemanasan global, yang merupakan salah satu isu saat ini di Indonesia.

Rengkung mengungkap kemasan makanan yang diproduksi dari pelepah pinang ini mampu terurai oleh tanah dengan waktu 60 hari dan paling cepat 2 minggu.

(ara/ara)