AS Tagih Rp 28 Juta ke Pengungsi dari Afghanistan yang Mau Dievakuasi

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 26 Agu 2021 11:57 WIB
MADRID, SPAIN - AUGUST 24: A worker uses a spot infrared thermometer to measure the body temperature of an Afghan woman, who was evacuated from Kabul, after disembarking from a plane at Torrejon Military Air Base on August 24, 2021 in Madrid, Spain. Madrid has so far evacuated just over 700 people from Afghanistan, with three planes scheduled to arrive today. Spain has been evacuating its nationals and local contractors from Afghanistan through the Dubai airbridge since the Taliban swept to power ten days ago. (Photo by Pablo Blazquez Dominguez/Getty Images)
AS Tagih Rp 28 Juta ke Pengungsi dari Afghanistan yang Mau Dievakuasi
Jakarta -

Pemerintah Amerika Serikat (AS) membebankan biaya US$ 2.000 atau setara Rp 28,8 juta (kurs Rp 14.400) kepada pengungsi Afghanistan yang datang ke AS. Biaya itu dibebankan per evakuasi.

Melansir USA Today, Kamis (26/8/2021), ketika Taliban berkuasa, banyak dari warga Afghanistan mengungsi ke AS. Nah belakangan ini di media sosial bergaung bahwa para pengungsi itu tidak akan pulang secara gratis.

"BREAKING: Pemerintah AS menagih pengungsi Afghanistan lebih dari US$ 2.000 per evakuasi," sebuah postingan Instagram 19 Agustus berbunyi.

Postingan tersebut, yang merupakan tangkapan layar dari laman Twitter @DROPTHEMIKE2020, mendapat lebih dari 2.800 suka dalam tiga hari.

Meskipun benar bahwa Departemen Luar Negeri pada awalnya merilis peringatan yang mengatakan bahwa mereka yang mencari penerbangan dari Afghanistan harus menandatangani surat perjanjian utang (promissory) sekitar US$ 2.000.

Sebuah pengumuman yang dirilis oleh Dewan Penasihat Keamanan Luar Negeri Departemen Luar Negeri AS pada 14 Agustus lalu menyatakan bahwa warga Amerika yang mencari penerbangan evakuasi dari Afghanistan di tengah pengambilalihan Taliban harus membayar US$ 2.000 atau lebih per orang. Bahkan untuk warga AS sendiri

"Penerbangan repatriasi tidak gratis, dan penumpang akan diminta untuk menandatangani perjanjian pinjaman dan mungkin tidak memenuhi syarat untuk memperbarui paspor AS mereka sampai pinjaman dilunasi," bunyi peringatan itu.

Politico melaporkan informasi tersebut dalam buletin, mengatakan bahwa staf Departemen Luar Negeri meminta pembayaran hingga US$ 2.000 dari penumpang Amerika dan biaya lebih tinggi untuk warga non-AS. Ketika dihadapkan, Departemen Luar Negeri tidak menyangkal hal itu terjadi.

Ratusan pengguna Twitter men-tweet screenshot laporan Politico, di antaranya Sen. Ted Cruz, R-Texas.

"Wow. Jika laporan ini benar, itu tidak dapat dipertahankan," tulis Cruz dalam cuitannya yang mendapat beberapa ribu retweet dan suka. "Pertama Biden meninggalkan Lapangan Udara Bagram, tanpa alasan. Kemudian mereka menahan 1000 orang Amerika di belakang garis musuh. Sekarang mereka menagih warga Amerika (emoji kantong uang) untuk melarikan diri dengan nyawa mereka? Konyol."

Departemen Luar Negeri dengan cepat berbalik arah.

"Dalam keadaan unik ini, kami tidak berniat mencari penggantian apa pun dari mereka yang melarikan diri dari Afghanistan," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price kepada Politico dan media lainnya.

Politico menambahkan dalam buletin Harian NatSec 20 Agustus bahwa ketika menanyakan Departemen Luar Negeri apakah akan berhenti meminta pengungsi untuk menandatangani surat perjanjian utang itu, Price menjawab "Ya."

(das/fdl)