BPS: Harga Gabah & Daya Beli Petani Naik per Agustus

Khoirul Anam - detikFinance
Rabu, 01 Sep 2021 17:27 WIB
Buruh tani membawa padi hasil panen di areal persawahan Desa Nagasari, Karawang, Jawa Barat, Selasa (9/3/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan adanya potensi peningkatan produksi padi periode
Foto: ANTARA FOTO/Muhamad Ibnu Chazar
Jakarta -

Harga gabah di tingkat petani mengalami peningkatan secara month to month baik gabah kering panen (GKP) dan gabah kering giling (GKG) pada Agustus 2021. Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) ini menyebutkan kenaikan gabah diikuti oleh kenaikan nilai tukar petani (NTP).

"Selama Agustus 2021, rata-rata harga gabah kering panen di tingkat petani Rp 4.448,00 per kg atau naik 3,19%," ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto dalam keterangan tertulis, Rabu (1/9/2021).

Selain harga GKP, Setianto juga mengungkapkan rata-rata harga GKG di tingkat petani mengalami peningkatan.

"Rata-rata harga GKG di tingkat petani Rp 5.038,00 per kg atau naik 3,37%," kata dia.

Diketahui, peningkatan harga gabah di tingkat petani diikuti oleh kenaikan NTP dan nilai tukar usaha pertanian (NTUP) sering dijadikan indikator kesejahteraan petani nasional. Secara keseluruhan, NTP pada Agustus 2021 mencapai 104,68 atau meningkat 1,16% dari bulan sebelumnya, sedangkan NTUP mencapai 104,80 atau meningkat 1,00% dari bulan sebelumnya.

Menurut Setianto, kenaikan NTP dan NTUP tersebut tak lepas dari meningkatnya indikator kesejahteraan petani subsektor tanaman pangan.

"NTP tanaman pangan mencapai 97,65 atau meningkat 1,39% dibanding bulan sebelumnya. Sementara NTUP tanaman pangan mencapai 97,79 atau meningkat 1,24% dibanding bulan sebelumnya," kata dia.

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian (Kementan) Kuntoro Boga Andri mengungkapkan bahwa harga gabah di tingkat petani perlu untuk dijaga. Menurutnya, petani harus mendapatkan keuntungan dari hasil produksi.

"Data bulan Agustus ini menunjukkan bahwa harga gabah di tingkat petani menjadi penting bagi penerimaan pendapatan petani. Karena itu, gabah di tingkat petani harus bisa diserap dengan harga yang bisa menguntungkan bagi mereka," jelas Kuntoro.

Ia menambahkan, harga gabah juga masih diikuti dengan stabilnya harga dan tersedianya stok beras di pasar.

"Berdasarkan data BPS, harga beras di tingkat grosir dan eceran masih cenderung stabil, yaitu sedikit menurun dibanding bulan sebelumnya, masing-masing sebesar 0,08% dan 0,03%," ujarnya.

Di sisi lain, kata dia, kondisi produksi dan stok beras masih terkendali. Ia memaparkan, per minggu ketiga Agustus 2021, stok beras nasional mencapai 7,60 juta ton yang masing-masing tersebar di penggilingan 1,52 juta ton, pedagang 708 ribu ton, dan Bulog sebesar 1,16 juta ton.

"Kementan terus berupaya mendorong hilirisasi produk pertanian agar memiliki nilai tambah sehingga petani pun bisa memiliki keuntungan yang layak seraya produksi pun terus meningkat. Sesuatu yang perlu kita syukuri, produksi beras selama kurang lebih dua tahun ini aman terkendali," pungkasnya.

(ega/hns)