Kesejahteraan Petani Meningkat, Bukti Swasembada Beras Tercapai?

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Rabu, 01 Sep 2021 21:36 WIB
Petani di Situbondo Kembangkan Padi Varietas Baru, Hasilkan 2X Lipat Dari Normalnya
Foto: Chuk Shatu Widarsha
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) pada bulan Agustus 2021 (m-to-m) mengalami kenaikan hingga 104,68 atau naik 1,16%. Kenaikan angka tersebut dipengaruhi oleh peningkatan subsektor tanaman pangan dan tanaman perkebunan.

Diketahui, NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

Mengenai hal ini, Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) Riyanto mengatakan kenaikan NTP dan NTUP merupakan bukti bahwa kesejahteraan petani perlahan tapi pasti mulai mengalami peningkatan.

"Selain itu kenaikan tersebut juga adalah bukti bahwa swasembada sudah di depan mata," ujar Riyanto dalam keterangan tertulis, Selasa (1/9/2021).

Riyanto mengatakan kenaikan NTP dan NTUP tak lepas dari kinerja jajaran Kementerian Pertanian (Kementan) yang meningkatkan indeks pertanaman, kemudian melakukan perluasan areal tanam, menyalurkan benih unggul, memfasilitasi pupuk subsidi, dan membuka akses KUR.

"Kementan juga terus berupaya merubah wajah baru pertanian Indonesia menjadi lebih maju, mandiri dan modern. Hal ini ditandai dengan kemunculan pusat data AWR (Agriculture War Room), teknologi berkekuatan artificial intelligence dan kecanggihan mekanisasi," jelasnya.

Dikatakan Riyanto, berbagai bantuan dan akses layanan yang diberikan ini mampu mempercepat musim tanam dan peningkatan produksi petani pada setiap kali melakukan tanam.

"Saya kira ini adalah capaian yang harus dipertahankan. Namun lebih dari itu capaian ini juga perlu didukung oleh semua pihak, termasuk kalangan akademisi dan praktisi," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri mengatakan Kementan terus fokus menjaga produksi. Indikator makro pertanian menjadi tanda semakin membaiknya produksi.

"Tentu tekad kita sama terus menjaga kecukupan pangan sendiri. Dari petani bangsa kita sendiri. Maka mohon terus dukungan agar kita mempertahankan swasembada pangan sampai Desember 2021. Karena kita tidak impor beras dalam 3 tahun," ungkapnya.

Kuntoro mengajak semua pihak menjaga produksi beras nasional cukup, terutama pemerintah daerah agar terus memotivasi petani dan memberi insentif atau stimulus positif bagi mereka.

"Kita tentu bangga dan apresiasi petani kita. Tapi kita juga harus terus pastikan produksinya terjaga, dan pasar menyerap hasil panen. Saat ini stok di masyarakat, cadangan Bulog semua aman," pintanya.

Sebagaimana data BPS, produksi beras pada setiap tahun selalu mengalami surplus. Tahun 2018 misalnya, surplus produksi beras mencapai 4,37 juta ton, selanjutnya 2019 surplus 2,38 juta ton dan tahun 2020 surplus 1,97 juta ton.

(akd/hns)