Skala Koperasi di Lampung Masih Kecil, Teten Sarankan Merger

Syahputra Eqqi - detikFinance
Rabu, 08 Sep 2021 18:15 WIB
Teten Masduki
Foto: Kemenkop UKM
Jakarta -

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengatakan Provinsi Lampung memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi penyangga kebutuhan pangan nasional. Pasalnya, provinsi tersebut memiliki beberapa komoditas unggulan, seperti gula, kopi, nanas, udang, beras, pisang, coklat, jagung dan lain-lainnya yang dapat dioptimalkan.

Teten menegaskan potensi pangan yang dihasilkan dari Provinsi Lampung harus dikelola dengan baik melalui wadah koperasi sehingga menjadi produk turunan yang mampu menciptakan nilai tambah.

"Pak Presiden telah memerintahkan kami (para menteri) untuk memperkuat sektor pangan. Nah, Lampung jadi salah satu Provinsi yang punya potensi sangat besar untuk jadi lumbung pangan nasional. Maka pemerintah fokus membangun infrastruktur juga di Lampung karena kita ingin Lampung jadi pusat pangan nasional. Apalagi Gubernur Lampung ini orang pertanian, jadi cocok dan momentum yang sangat baik," ungkap Teten dalam keterangan tertulis, Rabu (8/9/2021).

Dalam acara Pengarahan Model Bisnis Pengembangan Koperasi Sektor Pangan di Hotel Novotel, Bandarlampung, Rabu (8/9/2021) hari ini, Teten menambahkan, masalah utama yang dihadapi koperasi di Lampung, khususnya yang bergerak di sektor pertanian adalah skala usahanya yang masih kecil. Akibatnya, jumlah produksi yang dihasilkan tidak mampu mencapai skala industri.

Oleh karena itu, dia meminta agar koperasi-koperasi yang bergerak di sektor pertanian, perkebunan dan perikanan di wilayah Lampung dapat menyatu atau merger. Dengan cara ini, diharapkan hasil produksi akan terjamin baik dari sisi kuantitas, kualitas dan aspek keberlanjutan.

"Maka, konsep korporatisasi petani melalui koperasi adalah jawaban bagaimana petani perorangan yang punya lahan sempit itu dikonsolidasi melalui koperasi agar produknya bisa masuk skala ekonomi," ujar Teten.

Teten menambahkan, pemerintah juga berkomitmen untuk mendukung pengembangan koperasi pangan melalui pembiayaan yang murah. Menurutnya, saat ini sudah tersedia Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk UMKM dengan pagu yang dinaikkan dan tingkat suku bunga rendah. Dia menegaskan, pemerintah telah menaikkan plafon KUR tanpa jaminan dari Rp 50 juta menjadi Rp 100 juta, serta perpanjangan subsidi bunga 3% hingga Desember 2021. Untuk pagu anggaran KUR 2021 adalah sebesar Rp 253 triliun. Nilai-nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan plafon yang ditetapkan sebelumnya sebesar Rp 220 triliun.

"Penyaluran kredit oleh bank bagi UMKM Kita masih 20%, dan kami ditargetkan untuk bisa menaikkan minimal menjadi 30% pada 2024 mendatang, oleh karena itu KUR selalu kita naikkan dan ini akan terus naik sampai porsinya 30%," tegas Teten.

Teten menambahkan, saat ini sudah terdapat beberapa lembaga yang dapat membantu koperasi seperti Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (LPDB - KUMKM) yang merupakan Badan Layanan Umum (BLU) ini dibentuk untuk mendukung pembiayaan bagi koperasi di Indonesia.

Jika koperasi mau memanfaatkan pembiayaan dari Satuan Kerja (Satker) di bawah Kemenkop UKM ini, Teten menegaskan mereka akan mendapatkan banyak benefit seperti rendahnya suku bunga pinjaman yang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan suku bunga bank konvensional.

"Pembiayaan untuk koperasi selain dari bank saat ini juga ada LPDB karena sekarang ini sudah tidak ada hibah, tapi adanya dukungan pembiayaan murah. Maka koperasi diperkuat dengan dukungan pembiayaannya lewat LPDB," ucap Teten.

Di tempat yang sama, Gubernur Bandar Lampung, Arinal Djunaidi, menegaskan kerja sama yang dilakukan selama ini antara pemerintah pusat dan daerah membuahkan hasil yang ditunjukkan dari tingkat pertumbuhan ekonomi di Bandar Lampung menjadi yang tertinggi di Pulau Sumatera.

Pertumbuhan ekonomi di Bandar Lampung terbesar dikontribusikan oleh sektor industri makanan dan minuman yang mencapai 35,88%. Arinal juga menambahkan, pihaknya siap untuk mengelola produk-produk pertanian melalui koperasi asalkan ada jaminan harga yang kompetitif oleh pemerintah pusat.

"Produk-produk kita banyak yang berasal dari hulu seperti jagung, kopi, coklat, udang tapi mengapa kita tidak proses semua itu. Saya yakin, kerja sama yang erat kedepan saya siap laksanakan perintah Pak Menteri untuk diolah, saya akan minta koperasi yang berkelas untuk bekerja," kata Arinal.

Sebagai informasi, saat ini jumlah koperasi di Bandar Lampung mencapai 5.653 unit. Dari jumlah itu, tercatat koperasi yang aktif sebanyak 2.087 unit dengan jumlah anggota 2,2 juta orang. Total volume usaha yang dijalankan oleh koperasi mencapai Rp4,41 triliun. Untuk memaksimalkan potensi koperasi tersebut, Pemprov Bandar Lampung akan mengupayakan untuk memetakan jenis usaha koperasi dengan model bisnis yang sama untuk disatukan

Turut hadir pula dalam acara tersebut, Gubernur Bandar Lampung Arinal Djunaidi, Kepala Bank Indonesia Bandarlampung Budiyanto, Deputi Bidang Kewirausahaan Kemenkop UKM Siti Azizah dan Deputi Bidang Perkoperasian Kemenkop UKM Ahmad Zabadi.



Simak Video "Kemenkop UKM-Gojek Beri Pelatihan Spesial ke Ribuan UMKM"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/hns)