Merpati yang Ingkar Janji dan Tak Bisa Terbang Lagi

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 25 Sep 2021 21:15 WIB
Merpati Airlines
Foto: Rachman Haryanto

Selain itu, kinerja Merpati diperkuat dengan sinergi bersama Garuda Indonesia. Merpati bertugas sebagai feeder Garuda Indonesia untuk melayani penerbangan hingga pelosok negeri. Pada periode 1989-1992 kesejahteraan karyawan Merpati sangat tinggi. Bahkan tertinggi di lingkungan BUMN mengalahkan PT Pertamina (Persero).

Merpati juga pernah terbang dari Biak-Honolulu-Los Angeles, Jeddah sampai Australia. Namun seiring berjalannya waktu dan ketika Garuda menghentikan kerja sama setelah Sumolang tidak lagi menjabat Dirut, kinerja keuangan Merpati semakin memburuk mulai 1993.

Banyak masalah yang membuat Merpati akhirnya tak bisa terbang lagi pada 1 Februari 2014. Saat itu Merpati juga sedang dalam proses pembentukan anak usaha, divestasi aset dan langkah debt to equity masih dalam kerangka restrukturisasi dan revitalisasi.

Pada 2 Februari 2014 dalam siaran pers yang dikutip di dephub.go.id manajemen Merpati menyampaikan jika saat ini kondisi keuangan perusahaan terus menurun. Apalagi ditambah dengan menurunnya kepercayaan masyarakat dan agen terhadap maskapai ini.

Padahal berbagai upaya sudah dilakukan oleh manajemen. Misalnya pada 27 Januari 2014, maskapai dengan kode MZ ini sudah mengurangi sejumlah rute dan mengurangi frekuensi penerbangan. Pesawat yang dioperasikan juga dikurangi, yaitu hanya menerbangkan 2 pesawat Boeing, 3 pesawat MA60 buatan China, 1 Cassa, dan 2 DHC6.

Akan tetapi, itu pun tidak bisa dijalankan. Di beberapa bandara, Merpati tidak bisa terbang dikarenakan tidak adanya suplai avtur dari PT Pertamina. Pihak PT Pertamina pusat memutuskan untuk menghentikan pengisian pesawat-pesawat Merpati sampai adanya pembayaran avtur yang digunakan sebelumnya.

Merpati juga tidak bisa membayar asuransi yang harus dilunasi untuk termin berikutnya. Ditambah pula desakan internal yang karyawan meminta manajemen untuk membayarkan gaji. Kondisi tersebut membuat Merpati tak mampu terbang lagi.

Hal ini yang membuat seluruh izin rute Merpati di-suspend hingga akhir Februari 2014. Padahal Merpati sebelumnya sukses menerbangkan penumpang ke rute-rute terpencil hingga muncul penerbangan berbiaya rendah atau low cost carrier (LCC).

Merpati sebenarnya tidak cuma menawarkan layanan untuk penumpang. Tapi juga melebarkan sayap ke bisnis layanan darat atau ground handling hingga pelatihan awak dan pilot. Namun 2019 Merpati disebut-sebut bisa bangkit lagi meskipun menjalankan bisnis kargo udara. Saat itu Garuda Indonesia dan 9 BUMN lain bekerja sama untuk proyek ini.

Ada rencana hidupkan Merpati lagi. Cek halaman berikutnya.