Pengusaha Emping Bertahan di Tengah Ganasnya Pandemi

Erika Dyah Fitriani - detikFinance
Sabtu, 02 Okt 2021 11:10 WIB
Pengusaha emping melinjo di Lampung Tengah bertahan di tengah pandemi.
Foto: Agung Pambudhy/detikcom
Lampung Tengah -

Berbagai sektor usaha sempat terpukul akibat efek pandemi berkepanjangan, tak terkecuali usaha pembuatan emping melinjo. Meski sempat kesulitan, usaha pembuatan emping melinjo di Lampung Tengah mampu bertahan dari jerat pandemi dan memberdayakan ibu-ibu sekitar.

Pemilik Usaha Emping Melinjo dari Klaster Emping Melinjo Mitra Agam, Suwarti mengungkapkan usaha miliknya mulai dirintis sejak 1997 silam. Dimulai dari skala kecil, kini usaha yang berlokasi di Desa Nambah Dadi, Terbanggi Besar, Bandar Jaya, Lampung Tengah ini mempekerjakan ibu-ibu sekitar sebagai buruh produksi harian.

Suwarti mengatakan dalam sehari usaha miliknya bisa memproduksi kurang lebih 100 kg melinjo untuk dijadikan emping. Biasanya, jumlah melinjo yang diproduksi akan bergantung pada jumlah pekerja yang datang. Menurutnya, satu orang pekerja bisa mengerjakan 10 kg melinjo per harinya.

"Sehari-hari pekerjanya ibu-ibu di sini. Biasanya sampai 12 orang. Untuk bayaran sistemnya borongan per kilo melinjo, 1 kg melinjo akan diupah Rp3 ribu. Kita bagi sehari ini dapat produksi berapa kilo (keseluruhan), nanti dibagi rata tim yang kerja hari itu. Dihitung dari banyak melinjo yang dikerjakan," ungkap Suwarti kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan harga melinjo sebagai bahan baku maupun emping termasuk fluktuatif, sehingga pendapatannya tidak selalu menentu. Untuk setiap 1 kg melinjo, akan dihasilkan 1/2 kg emping. Saat ini, bisnis produksi emping Suwarti bisa meraih omzet hingga Rp 45 juta per bulannya dengan harga jual emping yang kini berada di kisaran Rp 30.000/kg.

Melalui Klaster Emping Melinjo, Suwarti pun mengajak ibu-ibu di desanya untuk memiliki penghasilan dari kesibukan sederhana ini. Ia mengaku, kesempatan bekerja memproduksi emping tak terbatas pada ibu-ibu saja, sebab anak muda juga bisa ikut untuk bekerja di sini.

Pengusaha emping melinjo di Lampung Tengah bertahan di tengah pandemi.Pengusaha emping melinjo di Lampung Tengah bertahan di tengah pandemi. Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Suwarti mengatakan pandemi turut berdampak pada usaha miliknya. Sebab, tutupnya pasar serta larangan berkerumun membuat permintaan terhadap emping dari tempatnya ikut menurun. Ia mengaku sempat mengurangi pekerja di tempat usahanya karena permintaan yang menurun drastis. Kendati demikian, ia tak berlama-lama melakukan efisiensi ini dan melakukan strategi lain.

"Selama pandemi, kita turunin harga walaupun (penghasilan) jadi menipis. Dari pada kita berhenti (produksi) kan, ini harus tetap jalan. Kasihan juga yang kerja kalau berhenti ini," ujarnya.

Tak hanya itu, Suwarti mengungkap sejak pandemi ini emping yang ia produksi juga tak hanya didistribusikan ke pasar-pasar sekitar Lampung Tengah. Akan tetapi juga menerima pesanan untuk yang biasanya dijadikan oleh-oleh, atau untuk dijual kembali oleh pembeli di luar kota.

Ia mengatakan emping yang diproduksi sudah menjadi langganan salah satu distributor yang menjual kembali produk usahanya di Bali. Menurutnya, permintaan yang tinggi akan emping di daerah tersebut membuat emping di sana bisa dijual dengan harga yang tinggi. Sehingga turut membantu usahanya untuk terus menjalankan produksi meski di tengah pandemi.

Sementara itu, salah seorang pekerja bernama Tutik mengaku tak sedikit pekerja di klaster emping melinjo milik Suwarti yang merupakan korban jerat pandemi COVID-19.

"Sebelum Corona kita orang bercocok tanam, ada yang dagang, ada pekerjaan lain juga. Ini sudah habis pekerjaan," kata Tutik.

Pengusaha emping melinjo di Lampung Tengah bertahan di tengah pandemi.Pengusaha emping melinjo di Lampung Tengah bertahan di tengah pandemi. Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Tutik menjelaskan COVID-19 sempat memengaruhi penjualan karena harga menurun dan pemasaran kian berkurang. Terlebih, dengan adanya larangan berkerumun yang membuat orang tidak berani ke pasar. Meski demikian, ia mengaku bisnis ini kian stabil dan bisa terus membantu ibu-ibu di sekitarnya untuk menambah penghasilan.

"Sekarang agak lumayan, ada yang menerima dan ada yang mengambil langsung ke rumah. Sudah mulai stabil, harga juga standar lagi," tuturnya.

"Harapannya usaha emping ini maju dan berkembang pesat tanpa ada halangan, lalu kesejahteraan warga sekitar, penghasilannya bisa nambah terus untuk makan sehari-hari," imbuhnya.

Untuk menunjang usahanya, Suwarti mengajukan KUR dari BRI untuk dapat menyokong usaha emping melinjo agar tetap terus bertahan di tengah pandemi. Adapun pinjaman ini menjadi modal bagi usaha miliknya untuk terus beroperasi dan memproduksi emping, serta menopang perekonomian ibu-ibu sekitar.

Sebagai informasi, detikcom bersama BRI mengadakan program Sinergi Ultra Mikro di Bandar Lampung dan Semarang untuk memantau upaya peningkatan inklusi finansial masyarakat melalui sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM dalam Holding Ultra Mikro. Holding Ultra Mikro berupaya mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan untuk peningkatan UMKM di Tanah Air. Untuk informasi lebih lengkap, ikuti beritanya dihttps://sinergiultramikro.detik.com/.

(prf/hns)