Pembukaan Bioskop Jadi Harapan Pemulihan Ekraf Industri Film

Erika Dyah - detikFinance
Rabu, 06 Okt 2021 21:14 WIB
Selective focus of man and woman enjoying film during world pandemic, looking at screen. Young caucasian audience watching movie in cinema, wearing white face masks. Social distancing concept.
Foto: Getty Images/iStockphoto/SerhiiBobyk
Jakarta -

Direktur Industri Musik, Film dan Animasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Mohammad Amin menilai pembukaan bioskop akan membantu pemulihan ekosistem ekonomi kreatif. Sebab film sangat berkontribusi positif terhadap perekonomian kreatif di Tanah Air.

Sebagaimana diketahui, pemerintah membuka kembali kegiatan masyarakat di ruang publik, salah satunya bioskop. Hal ini dilakukan seiring dengan penanganan COVID-19 yang makin membaik, dengan harapan mampu mendorong kebangkitan sektor ekonomi kreatif perfilman Tanah Air akibat pandemi.

Dalam Dialog Produktif Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) - KPCPEN, Amin mengatakan pemerintah telah menginisiasi berbagai program untuk mendorong sektor industri kreatif kembali bergerak, meski masih di masa pandemi. Adapun program yang dimaksud antara lain program Kreatif dari Rumah bagi pelaku seni.

"Ini sekaligus mengirimkan pesan, bahwa digitalisasi itu perlu untuk membangun Ekraf di masa depan," kata Amin dalam keterangan tertulis, Rabu (6/10/2021).

Ia menambahkan pihaknya juga menjalankan Program Webinar untuk meningkatkan kapasitas pelaku ekonomi kreatif (ekraf) dalam hal digitalisasi. Selain itu, ada juga program 1 Pintu sebagai sarana seleksi proposal kegiatan yang mendukung bangkitnya ekraf.

Amin menilai digitalisasi menjadi salah satu solusi konkret untuk memulihkan industri hiburan secara umum. Menurutnya, hal ini juga perlu didukung penguatan creativepreneurship (kewirausahaan di bidang kreatif) dan peningkatan produk kreatif unggulan yang dapat diserap pasar, berkelanjutan, serta memiliki dampak ekonomi.

Lebih lanjut, Amin menekankan langkah-langkah inovasi, adaptasi, dan kolaborasi perlu dilakukan oleh para pelaku Ekraf dalam membangkitkan kembali perekonomian. Ia mengungkap ada tiga skema yang disiapkan pemerintah dalam upaya memulihkan ekonomi nasional di bidang perfilman, yaitu promosi, produksi, serta perlindungan dan pemanfaatan hak kekayaan intelektual film.

"Melalui skema promosi, kami membantu promosi 40 film nasional, yaitu film panjang dan layar lebar, dengan anggaran mencapai Rp 1,5 miliar per film. Ini untuk membantu para production house agar berani menayangkan filmnya di bioskop, sehingga ekosistem perfilman nasional hidup kembali," paparnya.

Adapun upaya pemerintah dalam mendukung promosi film nasional disambut baik oleh Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia, Djonny Syafruddin. Ia berharap film-film nasional akan turut mendorong masyarakat untuk kembali menikmati film di bioskop. Sebab menurutnya, saat ini jumlah penonton baru sekitar 10% dari kapasitas bioskop.

"Di daerah, film nasional sangat disukai masyarakat," tandasnya.

Djonny mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir untuk menonton di bioskop karena selama 9 bulan terakhir tidak terjadi klaster bioskop. Menurutnya, hal ini terjadi karena penerapan protokol kesehatan di bioskop sangat terkontrol.

Tak terkecuali kewajiban memakai masker, duduk berjarak, mematuhi pembatasan kapasitas, juga aturan keluar ruangan agar tidak terjadi kerumunan. Ia pun menambahkan skrining dengan aplikasi PeduliLindungi juga diberlakukan bagi mereka yang memasuki ruang bioskop.

Sementara itu, Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan COVID-19, Sonny Harry B. Harmadi menilai penerapan prokes dalam kehidupan masyarakat, termasuk di bioskop, memang harus terus digencarkan. Hal ini menurutnya merupakan bagian dari perubahan perilaku dalam hidup berdampingan dengan COVID-19.

"Aturan pemerintah untuk Prokes ini tidak untuk membatasi aktivitas, melainkan karena ingin kegiatan dapat berjalan dengan risiko penularan yang minimal," tutur Sonny.

Tak hanya mempertahankan kepatuhan tersebut, Sonny menilai edukasi perlindungan kesehatan juga dapat terus ditingkatkan. Misalnya, melalui sosialisasi skrining mandiri sebelum menuju ke bioskop, serta pemberian informasi tata cara menonton di bioskop yang aman.

"Juga dengan pengawasan pelaksanaan prokes dan ketersediaan alat/sarana/petunjuk prokes di lapangan juga perlu, untuk memudahkan masyarakat dalam menjalankan prokes tersebut," ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Aktor sekaligus Wakil Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia PARFI 56, Ray Sahetapy menyampaikan harapannya agar industri perfilman harus segera bangkit. Menurutnya, banyak pihak yang terlibat di dalam industri ini. Terlebih, industri ini juga menjadi wahana ekspresi, pendidikan, dan pengembangan kualitas bagi banyak pelaku seni.

"Bangsa nusantara ini memiliki banyak kekayaan dan kultur yang unik yang tidak ada di tempat lain. Perlu bagi kita untuk mengungkapkan itu kepada dunia, melalui perfilman ini," paparnya.

Ray pun mengingatkan para pelaku industri perfilman dan masyarakat untuk tetap semangat bersama. Ia berharap dengan kolaborasi, sinergi dan kerja sama seluruh pihak industri perfilman akan kembali bangkit, sehingga pada akhirnya dapat menggenjot pemulihan ekonomi nasional.

(ncm/hns)