Lagi Krisis Energi, Ekonomi China Cuma Tumbuh 4,9%!

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 19 Okt 2021 08:33 WIB
Pertumbuhan ekonomi China melambat pada kuartal II 2021. Biro Statistik Nasional mencatat pertumbuhan produk domestik bruto China pada periode April hingga Juni sebesar 7,9 persen.
China Lagi Krisis Energi, Ekonominya Cuma Tumbuh 4,9%!
Jakarta -

Ekonomi China tumbuh 4,9% pada kuartal III-2021. Pertumbuhan itu lambat dalam setahun dan jauh lebih rendah dari perkiraan para analis.

Melansir BBC, Selasa (19/10/2021), capaian pertumbuhan ekonomi China itu juga lebih rendah dibandingkan pertumbuhan di kuartal II-2021 sebesar hampir 8%. Itu artinya pemulihan ekonomi di China mulai melemah.

Kekurangan pasokan listrik, wabah Covid-19, hingga tekanan dari Beijing pada sejumlah industri menjadi penyebabnya. Menurut para ahli, pelemahan pertumbuhan ekonomi ini tak bisa diremehkan karena bisa mengurangi potensi pertumbuhan ekonomi China secara tahunan.

Ekonomi terbesar kedua di dunia itu memang tengah menghadapi sejumlah tantangan dalam beberapa bulan terakhir. Pertama, dalam hal pasokan listrik. Melonjaknya harga komoditas global telah mempengaruhi biaya bahan baku untuk produksi listrik.

Ini terjadi pada saat yang sama ketika pemerintah pusat China telah meningkatkan tekanan pada pemerintah daerah untuk mengurangi emisi karbon mereka sejalan dengan tujuan negara itu untuk menjadi netral karbon pada tahun 2060. Banyak provinsi menerapkan penjatahan listrik, menyebabkan pemadaman listrik untuk rumah dan pabrik.

Kondisi ini diperparah dengan bencana banjir besar di provinsi penghasil batu bara terbesar di China, Shanxi. Provinsi itu menghasilkan 30% batubara China. Hujan deras telah menyebabkan harga batu bara mencapai titik tertinggi baru dan pemerintah mengabaikan pembatasan produksi.

Pemadaman listrik telah mengganggu banyak industri di dalam negeri, terutama yang menggunakan energi dalam jumlah besar, termasuk produksi semen, peleburan baja dan aluminium.

"Penurunan dalam industri tampaknya akan semakin dalam," kata ekonom senior China Capital Economics Julian Evan Pritchard.

Kondisi ini juga terjadi pada saat yang sama ketika sektor properti China menghadapi krisis utang. Contoh yang paling menonjol adalah China Evergrande Group, berutang lebih dari US$ 300 miliar dan terancam gagal bayar.

Pengembang properti lain Fantasia telah gagal bayar, sementara Sinic Holdings telah memperingatkan bahwa mereka bisa bernasib serupa.

"Perlambatan di sektor properti akan mempengaruhi aktivitas perusahaan di berbagai bidang seperti kontraktor konstruksi, bahan bangunan, dan perabotan rumah," kata Yue Su dari Economist Intelligence Unit.

Woei Chen Ho, seorang ekonom di United Overseas Bank di Singapura, mengatakan krisis energi dan krisis pada sektor properti mendorong bank akan menurunkan perkiraan pertumbuhannya untuk China di tahun ini.

(das/fdl)