Bursa Saham Malaysia 'Kebakaran' Digoyang Rencana Pajak Ekstra

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 02 Nov 2021 11:58 WIB
Ilustrasi Bendera Malaysia (AFP Photo)
Ilustrasi/Foto: AFP PHOTO
Jakarta -

Pemerintah Malaysia mengumumkan akan menarik pajak Windfall atau pajak ekstra alias pajak atas penghasilan tambahan. Pengumuman ini membuat bursa saham FTSE Malaysia KLCI mendapatkan sentimen negatif hingga turun 2,2% dan mencatatkan kinerja terburuk di Asia-Pasifik.

Mengutip CNBC, Selasa (2/11/2021), Menteri Keuangan Malaysia Tengku Zafrul Aziz mengungkapkan saat ini ekonomi Malaysia memang sangat terbebani akibat pandemi COVID-19. Tahun 2022 saja, anggaran pemerintah mencapai US$ 80 miliar. Ini merupakan anggaran tertinggi sepanjang sejarah.

Zafrul menyebutkan untuk mencapai anggaran ini, maka pemerintah mengambil langkah menaikkan tarif pajak perusahaan sebanyak lebih dari 100 juta ringgit. Tarifnya menjadi 33% dibandingkan sebelumnya 24%.

Ekonom OCBC Singapura Wellian Wiranto mengungkapkan pajak ekstra ini memang dilatarbelakangi oleh kebutuhan pembiayaan yang tinggi dari pemerintah.

"Tapi ini akan menjadi 'masalah' untuk beberapa perusahaan," ujar dia.

Tapi secara keseluruhan, kenaikan belanja pemerintah ini bisa mendorong pemulihan ekonomi Malaysia hingga 2022.

Dari data Dana Moneter Internasional (IMF) ekonomi Asia Tenggara diperkirakan tumbuh 3,5% tahun in dan 6% pada tahun depan. Pada 2020 ekonomi Malaysia mengalami kontraksi hingga 5,6%.

Karena itu dibutuhkan strategi dan upaya ekstra untuk kembali mendorong sektor ekonomi. Memang, ketika ada gelombang varian baru, Malaysia sempat melakukan lockdown untuk menekan peredaran kasus positif yang menyebabkan aktivitas ekonomi terganggu.

Ekonom Moody's Analytics Denise Cheok mengungkapkan Malaysia akan kembali menggeliat pada awal 2022.

"Anggaran negara yang ekspansif untuk tahun depan bisa menjadi prospek yang cerah untuk Malaysia. Apalagi dengan diizinkannya perjalanan domestik dan internasional, kenaikan harga komoditas yang turut membantu ekonomi Malaysia yang tertekan akibat COVID-19," ujarnya.

Simak juga Video: Ini Loh Prinsip Dasar Scalping Saham

[Gambas:Video 20detik]




(kil/eds)