Pensiun Pakai Batu Bara Lebih Cepat, RI Butuh Puluhan Miliar Dolar AS

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 03 Nov 2021 18:00 WIB
Batu bara di kapal CB 121 Banjarmasin terbakar dan mengeluarkan asap tebal. Nelayan di perairan Pulorida, Merak, khawatir pernapasannya terganggu.
Foto: Muhammad Iqbal
Jakarta -

Indonesia mengejar target nol emisi karbon pada 2060. Salah satu caranya berhenti menggunakan energi batu bara untuk pembangkit listrik.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, Indonesia bisa mempensiunkan pembangkit listrik tenaga batu bara lebih cepat, yakni pada 2040. Namun syaratnya, jika mendapatkan dana bantuan Internasional.

Dia menjelaskan, Indonesia telah mengidentifikasi bahwa, ada 5,5 gigawatt pembangkit listrik tenaga batu bara yang dapat dipensiunkan lebih awal dalam 8 tahun ke depan. Diperkirakan akan menelan biaya US$ 25 miliar hingga US$ 30 miliar atau setara Rp 357,5 triliun dan Rp 429 triliun (kurs Rp 14.300).

"Kalau kita mau maju sampai 2040, maka kita perlu dana untuk pensiunkan batu bara lebih awal dan untuk membangun kapasitas baru energi terbarukan," kata Sri Mulyani, dikutip dari Reuters, Rabu (3/11/2021).

Target Indonesia sebelumnya, untuk menghentikan pembangkit listrik tenaga batu bara pada 2056. Sri Mulyani mengatakan bantuan keuangan dari Internasional itu, bisa dari lembaga multilateral, sektor swasta dan negara-negara maju.

"Itulah yang sekarang menjadi inti isu dan saya sekarang sebagai menteri keuangan menghitung apa artinya pensiun batu bara lebih awal. Berapa biaya kita?" lanjutnya.

Sementara untuk menekan biaya listrik tetap terjangkau meski menggunakan energi terbarukan, menurut perhitungan sementara Indonesia membutuhkan US$ 10 miliar hingga U$ 23 miliar. Uang itu untuk subsidi proyek pembangkit tenaga listrik terbarukan hingga 2030.

"Jika ini semua seharusnya dibiayai dari uang pembayar pajak saya, itu tidak akan berhasil. Dunia bertanya kepada kita, jadi sekarang pertanyaannya adalah apa yang bisa dilakukan dunia untuk membantu Indonesia," tutup Sri Mulyani.

(eds/eds)