Inflasi China Makin Parah, Harga Sayur hingga Gas Melonjak

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 10 Nov 2021 20:15 WIB
Ilustrasi bendera China/ebcitizen.com
Foto: Internet/ebcitizen.com
Jakarta -

Inflasi di China menyebabkan lonjakan harga berbagai komoditas. Bahkan kenaikan harga dari produsen pun disebut meningkat tajam mendekati rekor.

Dikutip dari CNN, Rabu (10/11/2021) Dalam catatan Biro Statistik Nasional China, Indeks Harga Produsen melonjak 13,5% pada Oktober dari tahun lalu dan meningkat dari 10,7% pada September. Peningkatan itu menjadi yang tercepat.

Sementara, Indeks Harga Konsumen China naik 1,5% pada Oktober dari tahun lalu, dua kali lipat dari tingkat bulan sebelumnya dan laju kenaikan tercepat sejak September 2020.

Banyak produk yang mengalami kenaikan harga. Misalnya harga energi dan makanan karena pasokan langka. Pemerintah mengaitkan kenaikan inflasi konsumen dengan melonjaknya biaya sayuran dan gas.

Harga sayuran melonjak 16% pada Oktober, terutama karena curah hujan yang tinggi dan meningkatnya biaya transportasi, menurut pernyataan dari Dong Lijuan, ahli statistik senior untuk NBS.

Katanya, cuaca ekstrem telah merusak tanaman, dan pemerintah pun telah mengakui bahwa biaya transit lintas wilayah dapat meningkat karena langkah-langkah ketat untuk menahan wabah Covid-19.

Krisis energi yang sedang berlangsung juga merupakan kontributor utama kenaikan inflasi harga produsen, karena biaya penambangan dan pemrosesan batubara telah meningkat. Harga bensin dan solar pun disebut naik 30%.

Menurut Ken Cheung, kepala strategi valuta asing Asia untuk Mizuho Bank meningkatnya inflasi China memicu kekhawatiran global. Mengingat peran China sebagai pabrik dunia dan pentingnya bagi rantai pasokan global.



Simak Video "Inflasi di Inggris Melonjak 9%, Tertinggi Sejak 1982"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)