ADVERTISEMENT

Luhut Bertemu Tony Blair, Curhat soal Negara Kelas 2 hingga Uni Eropa

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 22 Nov 2021 16:33 WIB
Luhut Binsar Pandjaitan
Foto: Dok. Kemenko Kemaritiman & Investasi
Jakarta -

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan membagikan momen saat menerima kunjungan dari mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Kedatangan Tony Blair disebut untuk menindaklanjuti hasil pertemuan antara keduanya di Inggris beberapa waktu lalu.

Momen ini dibagikan Luhut lewat akun Instagram resminya @luhut.pandjaitan. Dia bercerita pertemuan dengan Tony Blair itu dilakukan selama 60 menit, Luhut bercerita soal banyak hal dalam pertemuan itu. Mulai dari upaya hilirisasi minerba, potensi carbon trading, hingga layanan kesehatan.

Tidak ketinggalan, Luhut juga sempat menceritakan progress pembangunan ibu kota baru kepada Tony Blair. Apalagi Tony Blair pernah disebut Luhut sebagai salah satu anggota Dewan Pengarah Ibu Kota Baru.

"It's amazing and very lovely to hear that. Ucap beliau ketika saya terangkan bahwa Indonesia punya fokus khusus pada pengelolaan kekayaan alam, tentu saja kita akan lakukan semuanya secara seimbang," ungkap Luhut dalam keterangan foto yang dia unggah, Senin (22/11/2021).

"Saya berharap Mr Blair akan menyampaikan seluruh kabar baik tentang kemajuan Indonesia kepada Perdana Menteri Inggris saat ini," lanjutnya.

Luhut menilai banyak negara maju, terutama di Eropa, belum mengetahui kondisi Indonesia saat ini. Maka dari itu menurutnya seringkali muncul pemberitaan atau isu-isu yang tidak sesuai fakta bahkan cenderung diputarbalikkan soal Indonesia.

Khususnya terkait hilirisasi minerba sehingga dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin berusaha mengadu domba baik dari luar maupun dari dalam negeri.

Luhut juga sempat penasaran mengapa negara-negara di Uni Eropa sering berperkara dengan Indonesia di WTO. Padahal saling membuka peluang kerja sama akan lebih menguntungkan.

"Secara khusus, saya menitipkan pertanyaan kepada beliau mengapa Uni Eropa lebih senang mengadukan Indonesia ke WTO, bukankah membuka peluang kerjasama rasanya akan lebih saling menguntungkan kedua belah pihak," ungkap Luhut.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT