Ekonomi Jakarta Sempat Resesi Berturut-turut, Anies Pastikan Tak Terulang

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 24 Des 2021 15:35 WIB
Gelaran Formula E batal digelar di Monas, Jakarta Pusat. Formula E batal digelar di Monas lantaran terkendala perizinan dari pemerintah pusat.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Ekonomi DKI Jakarta sempat mengalami penurunan tajam. Pertumbuhan ekonomi Jakarta terkontraksi dari 5,82% pada 2019 menjadi minus 2,36% pada 2020. Kemudian, masuk resesi pada triwulan II-2020 hingga triwulan II-2021.

Kepala Biro Perekonomian dan Keuangan Setda Pemprov DKI Mochamad Abbas dalam paparannya menjelaskan COVID-19 dan berbagai pembatasan mulai dari PSBB dan PPKM yang sangat mempengaruhi perekonomian Jakarta.

Efek pertama yakni menurunkan mobilitas bisnis retail dan rekreasi hingga minus 9%. Sektor ini mencakup bisnis restoran, kafe, pusat perbelanjaan, taman hiburan hingga bioskop.

"Untuk tujuan rekreasi dan retail Jakarta trennya kondisinya menurun -9%. Namun pergerakan masyarakat menuju toko obat hingga makanan meningkat 5% trennya pun meningkat," katanya dalam webinar, Jumat (24/12/2021)

Kemudian, juga ada penurunan mobilitas untuk tempat-tempat umum seperti taman, levelnya minus 23%. Bahkan mobilitas transportasi umum anjlok hingga minus 25%.

Penurunan mobilitas masyarakat dan bisnis di Jakarta juga menyebabkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) meningkat cukup signifikan. Dari Februari 2020 4,93% naiknya 100% menjadi 10,95% pada Agustus 2020.

"Berangsur-angsur di Agustus 2021 di posisi 8,5%. Atau turun sebesar 2,45% dan merupakan penurunan TPT tertinggi di Indonesia," lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama,Chief Representative BI DKI Jakarta, Onny Widjanarko mengungkap proyeksi pertumbuhan ekonomi Jakarta tahun 2022 mencapai 5,3% hingga 6,1%.

"Jakarta tahun 2021 pertumbuhannya 3,5-4,3% dan 2022 mencapai 5,3% hingga 6,5%. Kok bisa? Ini banyak yang nggak percaya. Karena condition for success nya banyak. Meskipun tantangannya juga ada," ucapnya.

Adapun sektor-sektor yang akan mendorong perekonomian Jakarta di tahun yang akan datang. Salah satunya yang menjadi pionir selama 11 tahun terakhir yakni sektor logistik hingga transportasi.

"Apa lagi MRT yang akan ada Transit Oriented Development (TOD). Toko-toko kecil di sana akan mendapatkan traffic. Sudah tenang karena langsung mendapatkan traffic. MRT ini akan menjadi market baru dan transportasi Jakarta akan menentukan arah pariwisata dan perdagangan yang luar biasa," lanjutnya.

Selain itu, sektor bisnis makanan hingga ekonomi digital Jakarta disebut-sebut lebih unggul. Rencananya, Jakarta yang terkenal dengan kelas premiumnya juga akan mengangkat UMKM kelas kecil agar naik ke kelas menengah.

"Sektor-sektor inilah yang akan menjadi ruang tumbuh ekonomi Jakarta tidak hanya 2022 tetapi tahun-tahun yang akan datang," tutupnya.

(das/das)