Survei BI: Cabai Merah Hingga Rokok Sumbang Inflasi Awal Maret

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 04 Mar 2022 16:40 WIB
Harga cabai rawit di berbagai wilayah termasuk Jakarta tengah jadi sorotan. Pasalnya harganya naik salah satunya akibat cuaca buruk yang melanda Tanah Air.
Ilustrasi/Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mencatat berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu pertama Maret 2022 perkembangan harga tetap terkendali dan diperkirakan inflasi 0,32%.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengungkapkan dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Maret 2022 secara tahun kalender sebesar 0,88% (ytd), dan secara tahunan sebesar 2,31% (yoy).

Dia menjelaskan penyumbang utama inflasi Maret 2022 sampai dengan minggu pertama yaitu komoditas cabai merah sebesar 0,07% (mtm), cabai rawit, tempe, bawang merah,.

"Emas perhiasan masing-masing sebesar 0,03% (mtm), daging ayam ras, tahu mentah, telur ayam ras, dan sabun detergen bubuk/cair masing-masing sebesar 0,02% (mtm), serta bahan bakar rumah tangga (BBRT) dan rokok kretek filter masing-masing sebesar 0,01% (mtm)," kata dia dalam keterangan tertulis, Jumat (4/3/2022).

Sementara itu, komoditas yang mengalami deflasi minyak goreng sebesar -0,04% (mtm).

Selan inflasi BI juga mencatat premi CDS Indonesia 5 tahun naik ke level 110,71 bps per 3 Maret 2022 dari 104,31 bps per 25 Februari 2022, sejalan dengan risk off di pasar keuangan global.

Berdasarkan data transaksi 1-2 Maret 2022, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp 6,13 triliun terdiri dari jual neto di pasar SBN sebesar Rp 8,3 triliun dan beli neto di pasar saham sebesar Rp 2,17 triliun.

Selanjutnya Berdasarkan data setelmen sampai 2 Maret 2022 (ytd), nonresiden jual neto Rp 1,60 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp 23,2 triliun di pasar saham.

BI akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran COVID-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.

"Serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan," jelas dia.

(kil/ara)