India Larang Ekspor Gandum, Eh Ternyata RI Sudah Kurangi Impor Duluan

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 17 Mei 2022 15:22 WIB
An Indian farmer woman carries wheat crop after harvest at Ganeshpur village, in Sonbhadra district of Uttar Pradesh state, India, Sunday, April 11, 2021. (AP Photo/Rajesh Kumar Singh)
Petani di India Panen Gandum/Foto: AP/Rajesh Kumar Singh
Jakarta -

Pemerintah India melarang ekspor gandum sejak Jumat (13/5) malam waktu setempat. Larangan itu dilakukan karena adanya gelombang panas yang menyebabkan produksi terbatas dan harganya melonjak tinggi.

Padahal banyak negara bergantung pada India setelah produsen gandum terbesar di dunia yaitu Ukraina kesulitan produksi dan ekspor akibat serangan Rusia. Indonesia termasuk salah satu importir gandum dari India.

Terlepas dari itu, sebelum India melarang ekspor gandum rupanya Indonesia sudah mengurangi impor dari negeri Bollywood tersebut. Hal itu terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat nilai impor gandum dari India ke Indonesia turun 94,91% secara tahunan pada April 2022.

"Impor gandum Indonesia dari India pada April 2022 turun dibandingkan April 2021. Jadi secara tahunan menurun," kata Margo dalam konferensi pers, Selasa (17/5/2022).

Margo menjelaskan volume impor gandum dari India pada April 2022 sebesar 2.000 ton dengan nilai US$ 0,78 juta. Jumlah itu menurun drastis dibanding April 2021 yang berkisar 55.660 ton dengan nilai mencapai US$ 15,34 juta.

"Data tahun 2021, selama 2021 (impor gandum dari India) sebesar 318.470 ton atau US$ 100,97 juta," bebernya.

Harga gandum global telah meningkat tajam akibat larangan ekspor India. Kontrak berjangka yang diperdagangkan di Chicago naik 5,9% menjadi US$ 12,47 per gantang atau mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir.

Selain adanya larangan ekspor dari India, kenaikan harga gandum juga akibat dampak invasi Rusia ke Ukraina. Kedua negara Eropa tersebut menyumbang hampir sepertiga dari ekspor gandum dunia.

"Jika larangan ini terjadi pada tahun normal, dampaknya akan minimal, tetapi hilangnya pasokan dari Ukraina memperburuk masalah," kata Analis Biji-bijian Thomas Elder Markets di Melbourne, Andrew Whitelaw dikutip dari Bloomberg.

(aid/ara)