ADVERTISEMENT

Nah Lho! Twitter Dituding Pakai Data Pengguna Secara Ilegal, Didenda Rp 2 T

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 30 Mei 2022 09:45 WIB
People holding mobile phones are silhouetted against a backdrop projected with the Twitter logo in this illustration picture taken in  Warsaw September 27, 2013.   REUTERS/Kacper Pempel/Illustration/File Photo
Nah Lho! Twitter Dituding Pakai Data Pengguna Secara Ilegal, Didenda Rp 2 T/Foto: Reuters/Kacper Pempel
Jakarta -

Twitter dituduh menggunakan data pengguna secara ilegal untuk urusan periklanan di platform. Otoritas Amerika Serikat (AS) menghukum platform media sosial itu dengan denda US$ 150 juta atau Rp 2,1 triliun (kurs Rp 14.500).

Dikutip dari BBC, Senin (30/5/2022), Komisi Perdagangan Federal AS (Federal Trade Commision/FTC) dan Departemen Kehakiman AS (Department of Justice) mengatakan Twitter melanggar perjanjian dengan regulator.

Twitter sebelumnya disebut telah bersumpah untuk tidak memberikan informasi pribadi seperti nomor telepon dan alamat email untuk urusan periklanan dalam platform. Penyelidik dari FTC dan DOJ mengatakan Twitter telah melanggar aturan itu.

Sebelumnya, Twitter juga pernah kena denda pada Desember 2020 karena melanggar aturan privasi data yang tercantum dalam General Data Protection Regulation (GDPR) di Eropa.

FTC menuduh Twitter melanggar perintah FTC 2011 yang secara eksplisit melarang perusahaan itu menyalahartikan praktik privasi dan keamanannya.

Menurut pengaduan yang diajukan oleh Departemen Kehakiman atas nama FTC, Twitter pada 2013 mulai meminta pengguna untuk memberikan nomor telepon atau alamat email untuk meningkatkan keamanan akun.

"Seperti yang dicatat dalam pengaduan, Twitter memperoleh data dari pengguna dengan dalih memanfaatkannya untuk tujuan keamanan, tetapi akhirnya juga menggunakan data tersebut untuk menargetkan pengguna dengan iklan," kata Lina Khan, yang memimpin FTC.

"Praktik ini mempengaruhi lebih dari 140 juta pengguna Twitter, sekaligus meningkatkan sumber pendapatan utama Twitter," katanya.

Ian Reynolds, direktur pelaksana perusahaan keamanan komputer Secure Team, mengatakan saat ini Twitter telah melanggar kepercayaan penggunanya untuk keuntungan pribadi mereka sendiri.

"Twitter membawa pelanggan mereka ke dalam rasa aman yang salah dengan memperoleh data mereka dengan mengklaim itu untuk tujuan keamanan dan melindungi akun mereka, tetapi pada akhirnya menggunakan data untuk menargetkan pengguna mereka dengan iklan," ungkap Ian Reynolds.

Twitter juga harus melakukan sederet hal ini. Cek halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT