ADVERTISEMENT

Penyandang Disabilitas Bisa Jadi Pebisnis, Begini Caranya

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 17 Agu 2022 15:00 WIB
Ilustrasi disabilitas
Foto: Thinkstock
Jakarta -

Penyandang disabilitas yang menjadi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) didorong untuk berperan aktif mendukung perekonomian digital di tanah air.

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo Usman Kansong menyebutkan, Kominfo melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika (Ditjen Aptika) telah menyediakan sejumlah pelatihan bagi para pebisnis UMKM penyandang disabilitas.

Hal ini agar, mereka dapat menguasai ekonomi digital di Indonesia. Adapun program-program tersebut dibuat sesuai kebutuhan kalangan difabel.

"Konsep besar Kominfo dalam transformasi digital adalah "nobody left behind". Artinya, semua masyarakat Indonesia diajak bertransformasi digital. Pilar transformasi digital adalah pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat umum, termasuk di dalamnya penyandang disabilitas," ujar Usman dalam keterangannya, ditulis Rabu (17/8/2022).

Usman mengemukakan, Ditjen Aptika Kominfo antara lain telah menyediakan program 1000 Startup Digital dan Literasi Digital. Dalam program ini, Kominfo akan menjadi fasilitator, menyiapkan sistem, tools dan mekanisme yang dapat membantu pengembangan bisnis startup. Ada juga program khusus, seperti coaching untuk menyesuaikan bisnis dengan pasar.

"Contohnya, ada seorang tokoh disabilitas bernama Anjas Pramono dari Universitas Brawijaya yang telah meraih penghargaan taraf internasional atas prestasinya menciptakan lima aplikasi berbasis Android, yang sebagian besar berkaitan dengan isu disabilitas," jelas Usman.

Dari data Badan Pusat Statistik (2020), penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 22,5 juta jiwa atau sekitar 5% dari total populasi. Dengan jumlah yang cukup banyak itu, setiap program literasi digital yang dijalankan selalu menghadirkan penerjemah bahasa isyarat.

Sementara itu, mengutip laporan Google dan Temasek tahun 2019, Indonesia merupakan salah satu negara Asia Tenggara yang mengalami pertumbuhan ekonomi digital paling tinggi. Nilai ekonomi digital Indoneia diproyeksikan mencapai US$ 100 miliar pada tahun 2025.

Yayasan Perempuan Tangguh Indonesia (PTI) selama ini dikenal sukses menjadi inkubator bisnis bagi kaum difabel.

Ketua umum PTI, Myra Winarko mengapresiasi langkah Kominfo yang memberi kesempatan sebesar-besarnya kepada pelaku bisnis UMKM dari kaum disabilitas.

Ia menegaskan, Yayasan PTI siap berkolaborasi dengan Kominfo. Menurutnya, kerjasama ini akan semakin membuka luas kesempatan bagi UMKM difabel bukan hanya untuk menampilkan hasil-hasil karyanya seperti craft, kuliner dan lain-lain tapi juga akses terhadap pasar yang lebih luas lagi.

"Dalam memanfaatkan momentum G20 ini, kami berharap tidak sekedar memperoleh kesempatan untuk memamerkan dan menjual karya anak didik kami. Lebih jauh dari itu, kami berharap dapat membukakan link bisnis bagi kaum disabilitas. Kegiatan ini sangat kami syukuri, berharap bisa lebih membukakan peluang bagi kaum disabilitas yang ada di Indonesia agar bisa berdaya secara ekonomi," tutur Myra.

Lanjut ke halaman berikutnya.



Simak Video "Kisah Pengusaha Walet Dari Sebuah Buku"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT