Serangan Balik Ukraina ke Rusia Bisa Cegah Eropa Nyemplung Resesi?

ADVERTISEMENT

Serangan Balik Ukraina ke Rusia Bisa Cegah Eropa Nyemplung Resesi?

Ilyas Fadilah - detikFinance
Rabu, 14 Sep 2022 08:25 WIB
Resesi Adalah
Foto: Resesi (Tim Infografis: Andhika Akbarayansyah)
Jakarta -

Pasukan Ukraina melancarkan serangan bertubi-tubi dan berhasil merebut kembali 2.300 mil persegi wilayahnya. Serangan ini juga berpotensi memaksa Vladimir Putin mempertimbangkan kembali strategi perangnya yang sudah berlangsung 6 bulan.

Namun, meski Ukraina sedang dalam posisi baik, ancaman resesi masih mengintai Eropa. Eropa sulit terhindar pada musim dingin ini, mengingat krisis energi sudah berlangsung lama.

"Saya tidak berpikir jika tiba-tiba Ukraina mengusir pasukan Rusia, perang akan berakhir. Atau, Rusia mengalirkan kembali gas ke Eropa dan harganya menjadi turun," kata kepala ekonom kelompok di Capital Economics, Neil Shearing, dikutip dari CNN, Rabu (14/9/2022).

Komoditas gas alam berjangka di Eropa turun hampir 50% setelah mencapai rekor baru pada akhir Agustus. Minggu lalu ada penurunan sebesar 20% saat pasukan Ukraina merangsek maju.

Tetapi jumlah tersebut masih lebih tinggi sekitar 460% dibanding tahun lalu. Hal ini menyusul pengumuman Rusia bahwa mereka akan menutup jalur pipa Nord Stream 1.

Putin belum menentukan langkah selanjutnya setelah pasukan mereka dipukul mundur. Namun dia bisa saja memotong pasokan gasnya ke Eropa saat merasa sudah tersudut. Hal tersebut berpotensi memperburuk krisis energi di kawasan Eropa.

"Kita harus memiliki kerendahan hati tentang kemampuan kita memprediksi apa yang akan terjadi," ungkap Shearing.

Menjelang musim dingin, Eropa berlomba-lomba menimbun pasokan energi demi menjaga sektor bisnis dan rumah tangga mereka tetap teraliri listrik.

Upaya tersebut sejauh ini berhasil, di mana fasilitas penyimpanan terisi dengan kapasitas 84%. Meskipun, biaya yang dikeluarkan untuk itu jelas besar.

Sejumlah negara Eropa juga meluncurkan paket bantuan demi melindungi konsumen dan perusahaan kecil akibat lonjakan harga-harga. Inggris, Jerman, dan negara-negara Uni Eropa lainnya, telah mengumumkan penyaluran bantuan lebih dari € 500 miliar atau US$ 509, atau setara Rp 7.584 triliun (kurs Rp 14.900).

Meski begitu, kontraksi aktivitas ekonomi dalam beberapa bulan mendatang tidak bisa dihindari. Institut Ifo Jerman telah memangkas estimasi pertumbuhan ekonomi di negara-negara Eropa.

"Kami sedang menuju resesi musim dingin," kata Timo Wollmershäuser, kepala prakiraan institut tersebut.

Banyak ahli memperkirakan ekonomi Eropa akan berkontraksi di tiga bulan terakhir tahun 2022, dan tiga bulan pertama tahun 2023. Apa yang terjadi setelah itu masih belum pasti.

Simak video 'Zelensky Klaim Ukraina Mulai Rebut Kembali Wilayah-wilayahnya dari Rusia':

[Gambas:Video 20detik]



(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT