ADVERTISEMENT

Jeritan Pedagang di Glodok City yang Kini Sepi Bak Kuburan

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Sabtu, 24 Sep 2022 11:00 WIB
Glodok City Sepi
Foto: Glodok City Sepi (Foto: Shafira Cendra Arini/detikcom)
Jakarta -

Siapa yang tak tahu dengan Glodok City. Pusat perbelanjaan legendaris yang telah berdiri sejak 1970-an ini dikenal sebagai pusat elektronik di ibu kota. Sayangnya, citra tersebut telah meredup.

Glodok City seakan tak mampu bertahan di tengah gempuran pusat perbelanjaan baru yang mulai menjamur serta maraknya toko online. Kondisi pandemi Covid-19 yang melanda RI pun menjadi pukulan telak.

Akhirnya, bangunan yang menjual alat elektronik hingga alat kesehatan ini pun semakin sepi bak kuburan. Jumlah gerai tutup pun bertambah dari waktu ke waktu, terutama di bagian lantai dua ke atas.

Penjual speaker di Glodok City, Asau mengatakan setelah pandemi mereda kondisi pusat perbelanjaan tersebut belum kembali seperti semula. Bahkan menurutnya, kemungkinannya sangat kecil.

"Orang-orang kan waktu pandemi kemarin sudah terbiasa dengan online. Jadi saya rasa untuk kembali ke dulu hampir nggak mungkin. Karena online itu," kata Asau, kepada detikcom, Jumat (23/09/2022).

Asau yang telah berjualan di sana selama 6 tahun itu mengakui pandemi Covid-19 sebagai alasan utama Glodok City sepi, hingga memperkuat sektor toko online.

Glodok City merupakan salah satu pusat elektronik legendaris di ibu kota sejak 1980-an. Namun sayangnya, kiprah gemilangnya meredup setelah pandemi Covid-19 datang melanda. Bahkan kini kondisinya sepi 'bak kuburan'.Glodok City merupakan salah satu pusat elektronik legendaris di ibu kota sejak 1980-an. Namun sayangnya, kiprah gemilangnya meredup setelah pandemi Covid-19 datang melanda. Bahkan kini kondisinya sepi 'bak kuburan'. Foto: Shafira Cendra Arini

Meski demikian, ia tetap bersikukuh untuk tidak berjualan online. Baginya, kualitas produk merupakan nilai jual nomor satu. Nilai itu hanya dapat dipastikan dengan datang secara langsung.

Kondisi ini juga membuat para pedagang mesti berjam-jam menjaga gerainya walau kemungkinan pengunjung datang sangat kecil. Seperti yang dialami oleh salah seorang pemilik toko servis PlayStation di sana.

"Saya terus terang ke sini tuh cuman numpang makan sama ngopi sama ngobrol aja. Dari pada jenuh di kosan. Siapa tau ada rejeki orang lewat. Itu aja sebenarnya kalau untuk sekarang," ungkapnya, yang tidak mau disebutkan namanya.

Pendapatan pelapak anjlok drastis. Cek halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT