Siap Dihujat! Mendag Sebut Harus Impor Beras Kalau Stok Kurang

ADVERTISEMENT

Siap Dihujat! Mendag Sebut Harus Impor Beras Kalau Stok Kurang

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Minggu, 25 Sep 2022 23:00 WIB
Inflasi pada Juli 2022 sebesar 4,94% menjadi rekor tertinggi sejak Oktober 2015. Harga komoditas pun menjadi naik.
Foto: A.Prasetia/detikcom
Jakarta -

Menteri Perdagangan RI Zulkifli Hasan menyebut persoalan beras merupakan yang utama bagi pemerintah RI. Oleh karena itu, apabila pasokannya tidak mencukupi, mau tidak mau impor harus dilakukan.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, beras sendiri memiliki pengaruh terhadap inflasi hingga 3,3%. Dengan demikian, akan sulit bagi pemerintah apabila beras sampai langka.

"Buat saya kalau sudah beras enggak ada tawar-menawar, saya mau dihujat orang pun kalau memang kurang harus impor beras. Enggak apa-apa karena beras itu pengaruh terhadap inflasi 3,3," kata Zulhas dalam konferensi pers Kinerja 100 Hari Mendag, Jakarta Pusat, Minggu (25/09/2022).

"Jadi kalau beras langka itu nggak kebayang deh, kalau minyak aja udah kayak gitu. Minyak goreng itu cuman 0,0 terhadap inflasi," tambahnya.

Oleh karena itu, menurutnya, persoalan beras ini harus dikaji secara mendalam dan mendetail terutama menyangkut perihal data kekurangannya. Sehingga, apabila harga beras mahal, pemerintah dapat segera ambil tindakan stabilisasi. Kondisi ini juga berkaitan dengan fungsi Badan Urusan Logistik (BULOG).

"Saya selalu mengusulkan Bulog itu fungsinya stabilisasi bukan pemeriksa. Jadi Bulog itu harusnya dia membeli gabah mahal, dijual murah. Karena petani kita itu juga buruh tani," tambahnya.

Oleh karena itu, Zulhas menyampaikan, apabila ada kekurangan menyangkut stok beras ini, semua akan dibahas tuntas lewat Rapat koordinasi terbatas (Rakortas). Sementara untuk stoknya sendiri, Ia menyebut, semua masih aman karena gudang Bulog masih penuh.

"Kemarin malam saya telpon Bulog, gudangnya penuh. 8.000 ton. Bulog juga bingung. Bulog punya stok nggak bisa keluar. Kalau ada penuh, nggak bisa keluar, mau gimana lagi," ungkap Zulhas.

"Kalau dulu kan 3 bulan tiap bulan ada Raskin tiap bulan ada Raskin jadi barang keluar masuk. Sekarang duit, jadi dia nggak harus jual," tambahnya.

Di sisi lain, harga gabah sendiri naik dari Rp 4.400 jadi Rp 5.500 dikarenakan perusahaan-perusahaan besar membutuhkan padi. Oleh karena itu, Ia mengatakan, pihaknya bersama Bulog akan melakukan intervensi pasar agar masyarakat bisa membeli dengan harga murah.

"Harusnya negara membeli dengan harga mahal dan menjual dengan harga murah. Tapi kalau harga ditekan lagi harus murah yang jadi korban petani terus," kata Zulhas.

"Nah Mestinya kan bulog tuh beli dengan harga tinggi, Rp 5.500 belinya Rp 5.600. Jual berasnya murah. Fungsinya stabilisasi, fungsi negara kan begitu," tambahnya.

Zulhas juga menyampaikan, masyarakat tidak perlu khawatir mengenai kenaikan harga beras ini. Ia menjamin, pemerintah akan memberikan subsidi kepada masyarakat agar tidak perlu membeli beras dengan harga mahal.

"Beras, kedelai, jagung kalau naik kita subsidi. Ada anggarannya, kedelai itu Rp 1.000 per kilo, jagung Rp 1.500, tergantung kenaikan. Beras juga gitu. Kalau beras dari Bulog ada kenaikan sedikit, bisa dibantu subsidi," ungkap Zulhas.

"Jadi nggak usah khawatir karena dibiayai Pemerintah. Ini sudah dianggarkan. Jadi aman lah beras aman jangan khawatir kemahalam," tambahnya.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT