Jokowi Sebut 19.700 Orang/Hari Mati Kelaparan, Benarkah?

ADVERTISEMENT

Jokowi Sebut 19.700 Orang/Hari Mati Kelaparan, Benarkah?

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 30 Sep 2022 07:45 WIB
Presiden Joko Widodo menggelar rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (11/12). Ratas tersebut membahas soal penyaluran dana desa Tahun 2020.
Presiden Joko Widodo (Jokowi)/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan 345 juta orang di 82 negara mengalami kekurangan pangan akut. Bahkan ia menyebut ada 19.700 orang yang meninggal setiap hari akibat kelaparan.

"19.700 orang setiap hari meninggal karena kelaparan," kata Jokowi dalam arahannya kepada seluruh Menteri/Kepala Lembaga, Kepala Daerah, Pimpinan BUMN, Pangdam, Kapolda dan Kajati si JCC Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (29/9/2022).

Menurutnya krisis pangan memang jadi permasalahan dunia di tengah ketidakpastian yang terjadi. Lalu terkait klaim Jokowi soal krisis pangan ini, bagaimana datanya?

Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) melalui Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) mengatakan, pada 2021 sekitar 854 juta orang di dunia mengalami kekurangan gizi. Dari jumlah tersebut, 100 juta di antaranya termasuk yang mengalami kemiskinan dan kelaparan.

PBB juga mencatat, 25 ribu orang, termasuk lebih dari 10 ribu anak-anak meninggal setiap harinya karena kasus kelaparan. Angka ini lebih tinggi dari yang disebutkan Jokowi.

Berdasarkan data PBB, ada empat negara yang menghadapi krisis pangan serius. Mayoritas berada di Afrika.

Sudan Selatan

Sekitar 7,2 juta rakyat Sudan Selatan menghadapi krisis pangan akut tingkat tinggi. Risiko kelaparan ini terjadi di beberapa wilayah Sudan Selatan.

Masyarakat harus bergulat dengan banjir yang terus berulang dan semakin parah, yang telah menyebabkan perpindahan besar-besaran. Kondisi ini juga menyebabkan kerusakan alam, termasuk kerusakan produksi pertanian, kehancuran mata pencaharian, dan lainnya.

Nigeria

Ketidakamanan dan tingkat inflasi yang tinggi memperparah kerawanan pangan akut di Nigeria. Kendala akses di daerah terus terjadi akibat tingginya aksi kekerasan. Menurut PBB hal ini menjadi tantangan terberat khususnya bagi pengiriman bantuan kemanusiaan.

Di negara bagian Borno yang terkena dampak konflik, sekitar 13.500 orang diproyeksikan menghadapi kelaparan dan kematian. Ini akan semakin buruk jika intervensi kemanusiaan dan pembangunan mata pencaharian tidak dipertahankan.

Ethiopia

Antara Juli-September 2021, 401.000 orang di wilayah Tigray diproyeksikan mengalami kelaparan. Risiko kelaparan yang tinggi terjadi karena adanya konflik di wilayah tersebut.

Semakin banyak yang mengungkapkan kekhawatirannya terkait krisis pangan di wilayah Tigray. Apalagi Ethiopia mengalami kendala yang terkait dengan persoalan iklim.

Yaman

Tingkat kelaparan di Yaman meningkat akibat perang dan krisis ekonomi. PBB mencatat setengah dari rumah tangga di Yaman punya tingkat konsumsi yang kurang dari yang dibutuhkan.

Pada 2021, lebih dari 2,25 juta anak dan lebih dari 1 juta ibu hamil dan menyusui terkena dampak malnutrisi akut.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT