Harga Kedelai Meroket Jadi Rp 13.000/Kg, Kemendag Ungkap Biang Keroknya

ADVERTISEMENT

Harga Kedelai Meroket Jadi Rp 13.000/Kg, Kemendag Ungkap Biang Keroknya

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 06 Okt 2022 16:16 WIB
Harga kedelai terus meroket beberapa hari ini. Hal ini membuat para perajin tahu dan tempe menjerit karena beratnya ongkos produksi.
Ilustrasi/Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkap penyebab dari tingginya harga kedelai. Plt Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Syailendra mengatakan saat ini stok kedelai memang sudah menipis, sebab pasokan yang ada sekarang dibeli tiga bulan lalu.

Sementara untuk pasokan November baru datang diperkirakan Desember. Syailendra, proses pemasokan atau impor kedelai ini memang dilakukan hanya tiga bulan sekali.

"Kedelai itu komoditi yang cepat rusak, jadi stoknya ada itu tiga bulan, sistemnya importir itu yang pasokannya ada sekarang yang dia beli tiga bulan lalu. Buat November barangnya lagi proses pengapalan yang akan datang pada bulan Desember, begitu siklusnya," katanya kepada detikcom, Kamis (6/10/2022).

Kemudian, selain pasokan yang menipis, harga kedelai dunia juga tengah meningkat. Syailendra menjelaskan, harga kedelai saat ini ketika harga pada Agustus lalu, di mana harga kedelai dunia tinggi.

"Harga dunia hari ini kan dari yang dia (importir) di posisi Agustus, angkanya di antara US$ 15,69 per per bushel (masih tinggi)," ucapnya.

Syailendra mengatakan harga kedelai akan mulai menurun pada akhir tahun ini. Mengingat di Desember pasokan kedelai baru masuk dan harganya mengikuti harga hari ini yang cenderung sudah menurun.

"Harga pembelian untuk Oktober itu sudah di level US$ 13,74 per bushel yang itu sudah turun US$ 2. Jadi dampaknya turun harga ya November-Desember. Jadi harga kedelai dunia hari ini, bukan jadi harga kedelai dalam negeri hari ini. Mungkin turun Desember," tuturnya.

Sebagai informasi, harga kedelai saat ini telah melambung cukup signifikan. Pada awal tahun ini tadinya harga kedelai Rp 8.000 per kilogram (kg), saat ini naik menjadi Rp 13.000/kg. Dampaknya, perajin tempe dan tahu merugi dan menyebabkan 40.000 perajin harus gulung tikar atau bangkrut.

"Ada yang bangkrut itu sekitar 20-30%, yang jelas sekarang ini kami susah. Jumlahnya kira-kira pangsa 40.000 perajin tempe dan tahu yang sekarang bangkrut dari 160.000 perajin," kata Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) Aip Syarifuddin kepada detikcom.

(ada/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT