Ekonomi RI Bisa Tumbuh di Tengah Ancaman Resesi Global, Syaratnya Apa?

ADVERTISEMENT

Ekonomi RI Bisa Tumbuh di Tengah Ancaman Resesi Global, Syaratnya Apa?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 06 Okt 2022 18:08 WIB
Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal-I 2018 tumbuh 5,2%. Pertumbuhan itu didukung dengan capaian penerimaan pajak maupun nonpajak.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Ekonomi dunia disebut mengalami tekanan di tengah kenaikan inflasi. Bahkan ekonomi dunia berpeluang masuk ke jurang resesi.

Salah satu lembaga riset Ned Davis Research menyebutkan resesi sempat terjadi pada 2020, 2008 dan 2009 lalu. Kondisi ini juga bisa terjadi dengan Indonesia.

Indonesia perlu jurus untuk menahan tekanan tersebut dan tetap mencatatkan pertumbuhan ekonomi. Dibutuhkan transformasi digital untuk mendorong hal tersebut.

Misalnya mulai dari pemanfaatan teknologi untuk transformasi dan berkontribusi terhadap pertumbuhan alternatif. Selain itu isu sumber daya yang fokus kepada hilirisasi produk-produk komoditas sehingga dapat memaksimalkan nilai tambah.

Indonesia juga berpeluang besar untuk menarik investasi. "Ini karena Indonesia sebagai ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di kawasan Asia-Pasifik dan pasar terbesar di Asia Tenggara," tulis keterangan Investor Daily Summit (IDS), dikutip Kamis (6/10/2022).

Dibutuhkan kematangan kerangka regulasi, iklim sosial-politik, wawasan sektoral, dan kepemimpinan pemikiran para pemangku kepentingan di Indonesia, membentuk forum yang menyatukan para pemimpin lembaga pemerintahan pusat dan daerah, pemimpin industri, pengusaha, dan investor, serta menyoroti potensi dan tren ekonomi dan bisnis terbaru di kawasan.

Dalam hal ini dibutuhkan beberapa hal mulai dari teridentifikasinya masalah-masalah spesifik di berbagai industri untuk menjadi panduan tindak lanjut (rencana aksi) bagi para pemangku kepentingan. Selain itu, teridentifikasinya peluang bisnis dan tren pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam konteks global.

Sasaran selanjutnya adalah terjadinya interaksi antara pemangku kepentingan bisnis di Indonesia Keempat, lahirnya kompilasi rekomendasi sebagai masukkan untuk memperkuat tata kelola perekonomian Indonesia, khususnya investasi yang tangguh dan berkelanjutan.

Acara yang akan digelar di JCC pada 11-12 Oktober bertema Optimism in Uncertainty ini akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), dan dihadiri oleh tujuh menteri dan pejabat setingkat menteri, serta lebih dari 50 pembicara yang terdiri dari pembicara-pembicara internasional, pimpinan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta.

IDS 2022 memungkinkan para pemangku kepentingan untuk duduk bersama dan bertukar pikiran mengenai langkah-langkah Indonesia ke depan, di kala ketidakpastian ekonomi global. Ada tiga pilar utama yang akan menjadi fokus pada tahun ini.

Pertama, isu digital, bagaimana kita memanfaatkan teknologi untuk transformasi dan berkontribusi terhadap pertumbuhan alternatif. Kedua, isu resources yang fokus kepada hilirisasi produk-produk komoditas sehingga dapat memaksimalkan nilai tambah, dan ketiga isu services, bagaimana potensi sektor jasa menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia ke depannya.

(kil/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT