Kementerian Pertanian mengatakan jumlah kabupaten/kota dengan kenaikan harga beras semakin berkurang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) saat ini jumlah daerah yang masih mengalami kenaikan harga beras sebanyak 37 daerah, menurun dari pekan sebelumnya 48 Kabupaten/Kota.
"Satgas pengendalian harga beras terus turun. Jadi kemarin ada 48 kabupaten (minggu kelima Oktober), 48 daerah, tapi ini sudah turun (menjadi 37 daerah). Satgas dan Bapanas kan sudah menurunkan harga. Nah sekarang kita mau turunkan lagi. Kita tidak boleh puas," kata Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/11/2025).
Menteri Pertanian itu juga mencatat, harga beras jenis medium maupun premium secara rata-rata nasional telah mengalami penurunan. Berdasarkan Panel Harga Pangan, rata-rata harga pada 27 November rata-rata harga beras medium di Zona 1 berada di Rp 13.078/kilogram (kg). Ini menurun sebanyak 1,92% dibandingkan sebulan lalu yang masih berada di Rp 13.334/kg.
Harga beras medium di Zona 2 telah berada di level Rp 13.616/kg atau menurun 2,29% dari bulan lalu di Rp 13.935/kg. Sementara Zona 3 menurun 4,67% dari Rp 16.293/kg menjadi Rp 15.532/kg.
Kendati demikian, rerata harga beras premium secara nasional masih perlu digenjot intervensi pemerintah untuk pengendaliannya. Rerata harga beras premium di Zona 1 telah berada di level Rp 14.806/kg yang telah menurun 1,01% dibandingkan sebulan sebelumnya. Zona 2 juga telah menurun 1,68% dan Zona 3 menurun 4,46 %, namun masih berada melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium.
Dalam data BPS juga disebut terdapat penurunan harga beras dalam sebulan terakhir. Harga beras medium sampai minggu ketiga November dilaporkan mengalami penurunan 1,54 persen dibandingkan Oktober 2025. Sementara untuk harga beras premium juga disebut menurun 1,67 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
"Produksi beras Indonesia tahun ini meningkat pesat. Jadi stok beras sangat aman. Masyarakat tidak boleh mendapatkan beras dengan harga yang tidak sesuai HET. Petani pun juga tidak boleh jatuh harganya. Motivasi petani kita harus terus dijaga. Pemerintah harus menjaga petani sampai masyarakat," pungkas Amran.
Untuk diketahui, menurut BPS dalam Kerangka Sampel Area (KSA) amatan September 2025, produksi beras nasional Januari sampai Desember dapat mencapai 34,77 juta ton. Capaian ini telah mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia setahun ini yang berkisar di angka 30,97 juta ton, sehingga tercipta surplus sebanyak 3,8 juta ton.
Sementara, terdapat perkiraan produksi beras Indonesia yang terbaru dari Food and Agriculture Organization (FAO). Dalam Food Outlook edisi November 2025, FAO memprediksi produksi beras Indonesia untuk periode 2025-2026 dapat mencapai 36 juta ton.
Proyeksi ini meningkat jika dibandingkan Food Outlook FAO edisi Juni 2025 sebelumnya yang memperkirakan produksi beras Indonesia di angka 35,6 juta ton. FAO pun melaporkan musim 2025-2026 akan mencatatkan rekor produksi beras global yang naik 1,2 persen dibandingkan musim sebelumnya.
Dengan produksi beras 36 juta ton tersebut, menasbihkan Indonesia menjadi produsen beras terbesar di kawasan Asia Tenggara. Indonesia disebut melebihi Vietnam 28,2 juta ton, Thailand 22,2 juta ton, Myanmar 16,7 juta ton, Filipina 12,5 juta ton hingga Malaysia 1,5 juta ton.
(ada/ara)