Follow detikFinance
Senin, 28 Mei 2018 11:32 WIB

Lira Anjlok 20% Lawan Dolar AS, Turki Terancam Krisis

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: REUTERS/Umit Bektas Foto: REUTERS/Umit Bektas
Jakarta - Nilai tukar lira Turki anjlok hingga 20% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak awal tahun. Pelemahan nilai tukar dolar AS dikarenakan keluarnya modal dari negara-negara berkembang dan balik ke negeri Paman Sam.

Gejolak nilai tukar tersebut bergerak semakin agresif awal bulan ini setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan ingin mengendalikan pengaturan suku bunga.

Ketika investor keluar dan nilai tukar lira merespons dan anjlok ke level terendah sekitar 4,69 lira per dolar AS. Bank sentral Turki pada hari Rabu mengumumkan kenaikan suku bunga darurat menjadi 16,5% dari 13,5%.


Lira sempat bangkit melawan dolar AS pasca kenaikan suku bunga bank sentral Turki, namun kembali jatuh. Dibutuhkan kenaikan bunga acuan lagi menjadi 19,5% pada awal Juni.

"Menurut kami kenaikan tingkat bunga adalah hal yang diperlukan," kata Oxford Economics dalam sebuah catatan penelitian seperti dikutip dari CNN, Senin (28/5/2018).

Inflasi sudah berada di level 11% tetapi depresiasi mata uang mendorong kenaikan harga. Banyak warga Turki yang mengatakan bahwa mereka sudah merasakan dampak krisis mata uang.

"Secara umum saya bisa merasakan harga sedang naik dan itu berdampak negatif bagi kami," kata Yasemen Atan, seorang mahasiswa.

Negara ini mengimpor ratusan miliar dolar AS barang setiap tahun, termasuk mobil, pakaian, dan lemari es. Barang-barang itu semakin mahal dari hari ke hari.

Setelah menaikkan suku bunga, bank sentral mengatakan ingin mencapai perubahan yang signifikan, terutama soal inflasi.


Erdogan, yang akan kembali maju menjadi Presiden pada 24 Juni mendatang tampaknya menjauh untuk ikut campur dalam kebijakan moneter.

"Turki adalah negara yang mematuhi semua aturan dan lembaga pasar bebas," katanya.

Namun para ahli mengatakan langkah itu terlalu terlambat. Gejolak sudah terjadi terlalu dalam.

"Komentar Erdogan sebelumnya masih segar dalam pikiran investor dan pemimpin politik untuk meredakan kekhawatiran bahwa kebijakan moneter akan ditentukan oleh politisi," kata Per Hammarlund, kepala strategi pasar berkembang di bank Swedia SEB.

Para ahli khawatir bahwa melonjaknya inflasi dapat menekan pertumbuhan ekonomi. Mereka juga khawatir bahwa uang dan investasi dapat mengalir keluar dari negara itu dengan cepat.

Turki memiliki defisit transaksi berjalan yang tinggi di atas 5% dari PDB. Itu berarti mengimpor lebih banyak dari ekspor.

Itu bergantung pada utang jangka pendek untuk menjaga ekonomi berjalan, tetapi ini datang dengan risiko bahwa pasokan dana dapat cepat hilang jika investor ingin keluar.

"Turki menjadi sangat rentan karena sebagian besar pendanaan dilakukan dalam waktu kurang dari satu tahun," kata Hammarlund.


Para ahli ingin bank sentral untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih untuk mengendalikan inflasi dan meningkatkan pinjaman dalam negeri, dan menempatkan mata uang pada tingkat fundamental yang lebih kuat.

Mereka juga ingin pemerintah menarik kembali program pinjaman dan langkah-langkah stimulus ekonomi.

Erdogan mengatakan pada hari Rabu bahwa jika terpilih kembali, pemerintahnya akan mengambil langkah yang diperlukan untuk mengurangi defisit transaksi berjalan dan menjadikan stabilitas keuangan sebagai prioritas. (ara/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed