Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 23 Jan 2019 18:41 WIB

BEI Buat Indeks Baru untuk Acuan Manajer Investasi

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan indeks saham baru yakni IDX80. Indeks ini berisi 80 saham dengan perhitungan bobot mendasar saham yang beredar di publik alias free float.

Kepala Riset dan Pengembangan BEI Verdi Ikhwan menjelaskan IDX80 dibuat sebagai indeks yang mengukur performa harga dari 80 saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik

Perbedaan IDX80 dengan indeks acuan BEI lainnya adalah adanya batasan bobot atau capped 9%. Itu artinya satu saham dalam IDX80 bobotnya tidak akan melebihi batas tersebut.

"Kenapa 9%, karena di OJK ada aturan kalau dia ingin bikin reksadana indeks itu batasan bobok maksimal 1 saham tidak lebih dari 10%. Kami bikin 9% semacam buffer. Saham yang berubah suatu saat dia bisa naik jadi 10%. Jadi untuk antisipasi naik turun harga saham," terangnya di Gedung BEI, Rabu (23/1/2019).



Untuk perhitungan bobot 1 saham di IDX80 dihitung dari nilai kapitalisasi saham dikali rasio freefloat dibagi base market cap hasilnya dikali 100. Dengan begitu, saham yang rasio freefloatnya kecil, maka perhitungan untuk bobotnya akan semakin kecil juga.

Sementara jika nantinya ada 1 saham yang bobotnya melebihi 9% dalam IDX80, akan dikembalikan menjadi 9%, sisanya akan dibagikan secara merata ke 79 saham lainnya.

Diharapkan IDX80 tersebut bisa menjadi pilihan benchmark bagi manajer investasi untuk membuat produk reksadana, baik itu secara aktif maupun pasif.

"Kita ingin buat indeks dipakai juga bukan cuma jadi acuan, entah untuk ETF atau produk reksadana saham. Karena dari Rp 500 triliun AUM MI itu sekitar Rp 150 triliun reksadana saham. Selama ini mereka pakai IHSG, tapi mereka tidak happy, mereka ingin ada indeks dengan jumlah saham tidak banyak tapi mewakili pasar," ujarnya.

IDX ini akan dievaluasi 4 kali dalam satu tahun. Evaluasi mayor akan dilakukan pada Februari dan Agustus untuk menentukan keluar masuknya saham dalam indeks. Sementara evaluasi minor pada April dan November.

Indeks yang mulai efektif pada 1 Februari 2019 itu juga akan menjadi acuan untuk menentukan indeks 45 saham dengan likuiditas tertinggi atau LQ45.


(das/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed