Saham Produsen Obat yang Dipakai Trump Melonjak 7%

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 07 Okt 2020 11:18 WIB
Traders work on the trading floor on the final day of trading for the year at the New York Stock Exchange (NYSE) in Manhattan, New York, U.S., December 29, 2017. REUTERS/Andrew Kelly
Ilustrasi/Foto: Reuters
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menerima antibodi eksperimental dosis tinggi dari produsen obat Regeneron sebagai bagian dari pengobatan COVID-19. Harga saham Regeneron melonjak tajam 7% dan saham makin naik ke level tertinggi saat Trump mengatakan dirinya akan keluar dari rumah sakit.

Dikutip dari CNN, Rabu (7/10/2020) melonjaknya saham perusahaan membawa Regeneron mendapat keuntungan saham sebesar 60%. Kabar mengenai obat yang dipakai Trump untuk pengobatan COVID-19 disampaikan oleh tim dari Trump pada Jumat lalu. Obat yang digunakan Trump dari Regeneron bernama REGN-COV2 yang digunakan untuk meringankan gejala dan mengurangi viral load.

Banyak orang yang mempertanyakan sejauh mana hubungan CEO Regeneron dan Trump. Sejak lama CEO Regeneron Dr. Leonard Schleifer dan Trump saling kenal.

Selain itu, Regeneron juga menerima US$ 450 juta dari dana pemerintah Juli lalu yang akan digunakan untuk rencana Operation Warp Speed atau pengembangan vaksin dan obat COVID-19.

Trump juga baru-baru ini memiliki saham Regeneron dan Gilead Sciences (GILD), pembuat obat antiviral remdesivir yang juga dipakai presiden. Kedua saham perusahaan tersebut terdaftar sebagai aset saat pengajuan Trump pada 2017 ke Kantor Etika Pemerintah AS.

"Schleifer dan Presiden Trump telah lama kenal saat mereka tinggal di daerah Westchester. Selama bertahun-tahun tidak ada kerja sama apapun, baru kali ini mereka terkadang membahas seputar masalah COVID-19," kata pihak Regeneron.

Menurut Forbes, kekayaan Schleifer mencapai US$ 2,5 miliar, naik dari US$ 2,1 miliar. Regeneron adalah salah satu dari banyak bioteknologi dan perusahaan farmasi yang telah meroket dengan harapan dapat cepat mengembangkan pengobatan COVID-19. Perusahaan tersebut memulai uji coba pada manusia untuk koktail antibodi pada Juni dan memulai uji coba fase 3 sebulan kemudian.

Obat REGN-COV2 dari Regeneron diketahui belum mendapat persetujuan dari Food and Drug Administration atau Badan Pengawas Obat dan Makanan AS. Namun, perusahaan mengonfirmasi pemberian obat itu atas permintaan dokter presiden dan sudah mendapat persetujuan FDA.

"Kami punya banyak data, tapi kami masih dalam tahap percobaan. Tapi saat Anda berada di tengah pandemi dan ada orang yang berisiko, kami pikir masuk akal untuk mencobanya," tambah Schleifer.

Regeneron menambahkan pihaknya sedang berdiskusi dengan FDA tentang potensi Otorisasi Penggunaan Darurat untuk REGN-COV2. Regeneron mengatakan pihaknya juga sedang mempelajari efek koktail pada pasien yang dirawat di rumah sakit, serta apakah itu dapat mencegah infeksi pada orang yang terpapar COVID-19.

Presiden dan kepala petugas ilmiah Regeneron George Yancopoulos, berharap dapat memberikan lebih banyak dosis REGN-COV2 kepada pasien dalam beberapa bulan ke depan.

"Kami berada di jalur yang tepat untuk memberikan 300.000 dosis pada akhir tahun dan memproduksi 300.000 dosis. Jika obat itu benar-benar bekerja dan memiliki efek yang kita semua harapkan, obat itu bisa memberikan banyak manfaat bagi banyak orang," kata Yancopoulos.

(ara/ara)