Stimulus Corona Tak Kunjung Cair, Pasar Saham AS Lesu

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 15 Okt 2020 08:05 WIB
Pusat bisnis di New York, Wall Street terlihat kosong melompong sebagai dampak
 pandemi Covid-19, Minggu (29/3/2020).
Foto: Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency
Jakarta -

Bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Rabu. Investor dinilai kehilangan harapan akan penetapan stimulus fiskal AS.

Kesepakatan stimulus fiskal AS nampaknya tidak akan disetujui sebelum pemilihan presiden pada November. Hal itu diungkapkan, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin.

"Pada titik ini menyelesaikan sesuatu sebelum pemilihan dan melaksanakannya akan sulit. Kami hanya memperhatikan di mana kami berada dan tingkat detailnya, tetapi kami akan mencoba untuk terus mengatasi masalah ini," kata Mnuchin dilansir Reuters, Kamis (15/10/2020).

Sebelumnya, saham-saham di bursa AS telah menguat karena optimisme pemberian stimulus baru untuk mengurangi dampak pandemi virus Corona. Namun, kini optimisme itu mulai pudar.

Kepala perdagangan dan penelitian di Harvest Volatility Management di New York, Mike Zigmont menilai stimulus sangat ditunggu-tunggu investor. Mereka bertanya-tanya kapan hal tersebut bisa disepakati dan diberikan.

"Optimisme berkembang pesat seperti roket minggu lalu dan sekarang optimisme mulai turun kembali. Saya pikir stimulus sebagai peristiwa makro besar sudah dimasukkan ke dalam harga saham. Ini hanya pertanyaan tentang kapan detailnya muncul dan kapan stimulus mulai berlaku," ungkap Zigmont.

Tercatat saham Amazon turun 2,3%, sementara Microsoft anjlok 0,9%. Keduanya menjadi saham dengan nilai terburuk dari saham lain di indeks S&P 500.

Dow Jones Industrial Average turun 0,58% menjadi 28.514. Kemudian, S&P 500 turun 0,66% menjadi 3.488,67. Di sisi lain, Nasdaq Composite turun 0,8% menjadi 11.768,73.

Volume perdagangan di bursa AS sendiri adalah 8,2 miliar saham. Lebih rendah dari rata-rata 9,6 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.

Sementara itu, saat ini musim laporan keuangan kuartal III perusahaan AS sedang berlangsung. Analis memperkirakan pendapatan perusahaan bisa turun 19% dari tahun sebelumnya. Menurut data IBES Refinitiv, perkiraan penurunan pendapatan bisa mencapai 25% daripada Juli.

Di samping itu, pasar mulai berspekulasi akan prospek kemenangan Demokrat. Pasalnya, banyak investor memandang kandidat Demokrat, yaitu Joe Biden, lebih cenderung menaikkan pajak.

Mereka semakin menunjuk pada potensi keuntungan dari kepemimpinan Biden. Seperti belanja infrastruktur yang lebih besar dan ketidakpastian perdagangan global yang berkurang.

(ara/ara)