Dear Milenial, Investasi Saham Bisa Mulai dari Rp 100.000 Lho!

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 16 Jan 2021 21:00 WIB
Saham PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) melejit pada perdagangan Selasa (5/1/2021) gegara Raffi Ahmad dan Ari Lasso mempromosikannya.
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Generasi milenial sedang marak-maraknya membahas investasi saham. Instrumen investasi pasar modal tersebut kini sangat dilirik karena maraknya perbincangan tentang saham di media sosial.

Berapa dana yang harus disiapkan?

Pertama, untuk berinvestasi saham, detikers harus memiliki rekening dana nasabah (RDN) atau juga biasa disebut dengan rekening dana investor (RDI) yang dibuka melalui perantara yakni perusahaan sekuritas. Nantinya, detikers harus menyetor dana untuk saldo awal di RDN. Misalnya di MNC Sekuritas, saldo awal RDN bisa dimulai dari Rp 100.000.

"Saat ini deposit atau setoran awal untuk investasi saham sangat terjangkau. Investor hanya perlu menyiapkan dana Rp 100.000 saja untuk mulai berinvestasi," kata Direktur Utama MNC Sekuritas Susy Meilina kepada detikcom, Sabtu (16/1/2021).

Setelah mengisi saldo RDN, maka detikers bisa membeli saham di aplikasi yang disediakan perusahaan sekuritas. Minimum pembelian saham sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah 1 lot (100 lembar).

Lalu, berapa harga 1 lot saham? Menjawab itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan harga 1 lot saham berbeda-beda, sesuai dengan harga saham masing-masing perusahaan terbuka yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, untuk membeli sahamnya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing investor.

"Investasilah sesuai nilai kantong. Yang paling penting konsistensi untuk menabung. jadi misalnya setiap bulan mampu menyisihkan Rp 500.000 untuk saham, ya sudah masukkan. Sekarang kan 1 lot hanya 100 lembar. Misalnya beli saham Telkom, harganya misalnya Rp 3.500/lembar. Berarti kan 1 lotnya hanya Rp 350.000. Berarti ini kan sampai sebetulnya," terang Nico.

Menurut Nico, idealnya dana untuk investasi itu disisihkan sekitar 20-25% dari penghasilan bulanan. Namun, harus dipastikan uang itu tidak dibutuhkan untuk kebutuhan yang lebih penting.

"Jadi nilailah investasi sesuai dengan nilai kantong. Jangan dipaksakan. Tapi pastikan yang namanya investasi, setting di 20-25% dari sumber pendapatan," urainya.

Dihubungi secara terpisah, Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, investor tak perlu membeli saham langsung dalam jumlah yang besar. Ia menyarankan, investor terutama pemula membeli saham dengan mencicil.

"Untuk menghindari risiko yang terlalu besar, lakukan dengan bertahap. Jadi jangan langsung melakukan pembelian sekaligus, tapi melakukan Dollar Cost Averaging (DCA) supaya mendapatkan harga yang bagus di pasar. Kemudian lakukan investasi dalam periode yang panjang, nah dengan DCA itu. Jadi setiap periode membeli, membeli, membeli," tutup Hans.

(ara/ara)