Gejolak Imbal Hasil Obligasi Mereda, Wall Street Ditutup Cerah

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 02 Mar 2021 08:47 WIB
Pusat bisnis di New York, Wall Street terlihat kosong melompong sebagai dampak
 pandemi Covid-19, Minggu (29/3/2020).
Foto: Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency
Jakarta -

Saham-saham di bursa Amerika Serikat mengalami reli kenaikan pada perdagangan hari Senin. Kenaikan ini terjadi setelah imbal hasil obligasi Amerika Serikat berhenti bergejolak dari kenaikannya baru-baru.

Dilansir dari CNN, Selasa (2/3/2021), indeks saham utama dibuka menguat tajam dan melanjutkan reli mereka saat sesi perdagangan berlanjut. Indeks Dow Jones mengakhiri perdagangan dengan kenaikan 2%.

Indeks S&P 500 yang lebih luas naik 2,4%, rekor tertingginya sejak Juni 2020. Sementara Nasdaq Composite (COMP) naik 3%, yang menjadi capaian terbaik sejak November 2020.

Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS baru-baru ini telah membebani pasar saham. Investor khawatir inflasi dapat melonjak tajam bila ekonomi dibuka kembali sepenuhnya. Hal itu memaksa Federal Reserve menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diharapkan dan mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi.

Suku bunga yang lebih tinggi akan membuat perusahaan lebih mahal untuk meminjam, dan dengan demikian buruk untuk pasar saham.

Dinamika ini terjadi sepanjang minggu lalu meskipun Gubernur Bank Sentral The Fed Jerome Powell menegaskan kembali bank sentral tidak khawatir tentang lonjakan inflasi yang berkepanjangan.

Obligasi Treasury AS 10 tahunan kini terpantau memiliki imbal hasil sebesar 1,45%, turun sedikit dari capaiannya di hari Jumat pekan lalu. Hasil dan harga obligasi bergerak berlawanan satu sama lain.

"Meskipun masih sangat rendah dari perspektif historis, imbal hasil terus meningkat selama dua bulan terakhir karena prospek ledakan ekonomi," tulis Angelo Kourkafas, ahli strategi investasi di Edward Jones.

Tentu saja, ekonomi yang berkembang pesat adalah hal yang baik . Mempertimbangkan efek pandemi yang menghancurkan perekonomian, Fed tidak akan menghalangi pemulihan dengan menaikkan suku bunga terlalu dini.

"Intinya, lonjakan dalam imbal hasil obligasi jangka panjang bisa menjadi katalisator bagi saham untuk beristirahat, tetapi itu bukan ancaman struktural bagi pemulihan yang lebih luas," kata Kourkafas.

(hal/eds)