Taliban Berkuasa, Mata Uang Afghanistan Berdarah-darah

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 20 Agu 2021 11:01 WIB
Afghanistan
Foto: Getty Images/KeithBinns
Jakarta -

Nilai mata uang Afghanistan merosot ke level terendah minggu ini. Afgani, mata uang Afghanistan tercatat 86 per dolar AS melemah dibandingkan periode pekan lalu sebesar 80.

Melemahnya Afgani terjadi karena Taliban yang menimbulkan kepanikan sehingga pasokan dolar AS semakin berkurang. Kondisi ini juga dikhawatirkan terus mengganggu perekonomian negara tersebut.

Saat ini Afghanistan sangat bergantung dari bantuan internasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS). Bank Dunia menyebut 75% merupakan bantuan dari hibah internasional.

Merosotnya nilai Afgani akan membuat tekanan inflasi karena harga yang naik untuk kebutuhan pokok seperti makanan dan membuat warga miskin akan semakin mengalami kesulitan.

Direktur Strategi Eurasia Group Robert Kahn mengungkapkan pasar di Afghanistan panik karena kondisi politik yang terjadi sekarang. Apalagi sistem keuangan Afghanistan sangat bergantung pada impor dibandingkan ekspor.

Analis senior FX In Touch Capital Markets mengungkapkan jika Taliban harus memperhatikan mata uang untuk pembayaran impor dan mencegah krisis neraca pembayaran yang semakin melebar.

Gubernur Bank Sentral Afghanistan Ajmal Ahmady mengungkapkan pihaknya berupaya untuk melakukan stabilisasi nilai tukar. "Pada Jumat kami melihat kondisi semakin buruk, kami tidak bisa mendapatkan pasokan dolar AS lagi," jelas dia dikutip dari CNN, Jumat (20/8/2021).

Dia menyebutkan bank sentral berupaya untuk menjaga stabilitas pasar uang. Dia bahkan menyebut sudah bicara dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani untuk meminta pasokan dolar AS dan rencana tersebut sudah disetujui.

Simak juga video 'Taliban Buka Pintu Hubungan Internasional, Tapi...':

[Gambas:Video 20detik]



Jumlah uang tunai di Afghanistan hampir habis. Cek halaman berikutnya.

Pada Minggu, Ahmady mengungkapkan pimpinan Afghanistan termasuk Ghani sudah pergi meninggalkan negara tersebut. Menurut dia, seharusnya pimpinan tidak melakukan hal itu. "Saya benar-benar muak dengan perencanaan yang tidak maksimal dari pimpinan Afghanistan," tambah dia.

Ahmady menyebut uang tunai di Afghanistan sudah hampir habis. Karena kekurangan dolar AS, menurut Ahmady Taliban harus menerapkan kontrol modal. "Mata uang akan terdepresiasi, inflasi naik dan ini akan merugikan orang miskin karena harga pangan akan naik," jelas dia.

Seperti bank sentral pada umumnya, Afghanistan juga menyimpan sebagian besar cadangannya di luar negeri dalam bentuk US Treasury, emas dan sejumlah aset lainnya. Ahmady menyebut Taliban juga telah menanyakan keberadaan aset tersebut kepada staf bank sentral.

"Jika ini terjadi, mereka harus merekrut ekonom ke dalam pasukan mereka," tambahnya.

IMF sudah dijadwalkan mengirimkan bantuan sekitar US$ 450 juta ke Afghanistan pada pekan depan. Namun dana tersebut bisa dipotong karena Taliban telah menguasai negara tersebut.

(kil/ara)