Portofolio BP Jamsostek Minus Rp 32,8 T, Saham Krakatau Steel Sudah Dilepas

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 15 Sep 2021 15:13 WIB
Pekerja merapihkan uang Dollar dan Rupiah di Cash Center BRI Pusat, Jakarta, Kamis (5/6/2014). Nilai tukar rupiah hingga penutupan perdagangan sore pekan ini hampir menyentuh angka Rp 12.000 per-dollar US.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat portofolio investasi BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek) masih negatif Rp 32,8 triliun per Juli 2021. Negatif investasi disebabkan oleh unrealized loss penurunan kinerja saham yang diinvestasikan akibat pandemi COVID-19.

Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK, Mochammad Ihsanuddin mengatakan kinerja negatif juga terjadi pada investasi di reksadana yakni minus Rp 8,1 triliun.

"Selama ini belum dilakukan settlement ini status masih unrealized loss dan ini bisa juga unrealized gain bila belum settlement transaksi," kata Ihsanuddin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IX DPR RI, Rabu (15/9/2021).

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Investasi BP Jamsostek Edwin Michael Ridwan menyebut pihaknya telah menindaklanjuti rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait jual rugi (cut loss) dan ambil untung (take profit) atas enam saham yang tidak ditransaksikan dan menjadi portofolio perseroan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dari rekomendasi enam saham yang direkomendasikan, baru tiga saham yang dijual yakni Krakatau Steel (KRAS), Indo Tambangraya Megah (ITMG), dan Salim Ivomas Pratama (SIMP). Saat ini proses pencairan dana masih berlangsung.

"Krakatau Steel dan ITMG masing-masing capital gain sebesar Rp 11,9 miliar, Rp 2,8 miliar. Untuk SIMP memang masih kecil Rp 16,39 juta. Proses take profit ini masih terus kami lakukan, memang belum selesai mengingat posisi kami cukup signifikan dan saham-saham ini yang tidak terlalu likuid di pasar, sehingga untuk kami melakukan take profit tentunya membutuhkan waktu," ujarnya.

Di sisi lain pihaknya juga menambah kepemilikan di dua saham yang saat ini masih merugi (average down), yakni PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).

"Kami justru melakukan average down karena kami melihat prospek dari sektor CPO saya kira ke depan akan jauh lebih baik sehingga kami melakukan everging down," tuturnya.

Sedangkan untuk saham Garuda Indonesia (GIAA), belum dilakukan aksi penjualan maupun pembelian tambahan dalam kepemilikan saham di BUMN penerbangan tersebut.

"Industri penerbangan maupun sektor pariwisata adalah salah satu yang terpukul oleh kondisi pandemi. Jadi kami masih memantau secara seksama kondisi di saham Garuda tersebut," ujarnya.



Simak Video "Jokowi Teken Inpres Perintahkan Seluruh Elemen Pemerintahan Dukung BPJAMSOSTEK"
[Gambas:Video 20detik]
(aid/zlf)