Hiii! Sri Mulyani Ungkap Deretan 'Hantu' di Pasar Modal

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 16 Nov 2021 15:06 WIB
Perdagangan saham tahunan 2019 resmi ditutup. Seremonial penutupan perdagangan saham itu dilakukan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Ada beberapa kondisi gejolak ekonomi global yang diperkirakan mempengaruhi dunia keuangan termasuk pasar modal. Kondisi-kondisi ini akan menghantui pergerakan saham bahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tahun depan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan ada beberapa hal yang akan mempengaruhi arus modal asing atau capital flow di Indonesia. Capital flow inilah yang akan memberikan dampak signifikan terhadap pasar modal.

"Covid masih penting, harga komoditas yang masih meningkat, kemudian terjadinya tapering di Amerika Serikat dan juga dinamika geopolitik. Ini adalah hal yang biasanya dampaknya terutama karena saya bicaranya di komunitas pasar saham atau para pelaku baik investor maupun CEO dari perusahaan yang IPO, Anda akan sangat melihat issue global ini dampaknya biasanya pada capital flow, dan ini biasanya juga mempengaruhi pergerakan saham maupun kegiatan di sektor keuangan yang lainnya," tuturnya dalam acara CEO Networking 2021, Selasa (16/11/2021).

COVID-19 menurutnya sudah tidak lagi menjadi sosok yang paling menakutkan di pasar modal. Untuk tahun depan hal yang menjadi hantu pasar modal adalah sederet dinamika global yang akan mempengaruhi aliran modal di negara berkembang seperti Indonesia.

Sri Mulyani menjabarkan, pertama penentuan siapa yang akan menjadi chairman dari Bank Sentral AS, Federal Reserve. Kedua polemik perdebatan kenaikan batas utang atau debt ceiling di AS. Sebab jika tidak, AS terancam tidak bisa membayar utangnya.

"Dan juga inflasi sangat tinggi di atas 6% di AS yang akan menimbulkan komplikasi pada kebijakan di sisi moneter dan kecepatan dan kekuatan tapering yang akan dilakukan Amerika Serikat," tambahnya.

Tak hanya di AS, hantu pasar modal juga muncul dari Eropa. Kawasan itu saat ini tengah menghadapi kenaikan harga energi dan juga masalah geopolitik.

Di China pun sama, selain polemik Evergrande, pendinginan ekonomi di China juga menimbulkan kebijakan-kebijakan ekstrem yang akan dilakukan pemerintahnya sebagai respons. Selain itu kasus COVID-19 yang kembali muncul mendorong pemerintahnya kembali melakukan lockdown.

"Ini semua akan mempengaruhi harga komoditas, capital flow dan juga menjadi sentimen dari pasar keuangan global," tutupnya.

Lihat juga Video: Momen Akrab Sri Mulyani dan Retno Ngeteh di Roma Italia Jelang KTT G20

[Gambas:Video 20detik]



(das/ara)