PKPU Sritex Diperpanjang hingga 25 Januari 2022

ADVERTISEMENT

PKPU Sritex Diperpanjang hingga 25 Januari 2022

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 06 Des 2021 19:45 WIB
Baju Pemadam Kebakaran dengan Teknologi Pakaian Astronot Produksi Sritex
Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance
Jakarta -

PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) mengumumkan Pengadilan Niaga Semarang telah memutuskan untuk memperpanjang proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) selama 50 hari hingga 25 Januari 2022. Hal itu disampaikan perusahaan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dengan perpanjangan tersebut, perusahaan berharap dapat menyukseskan proses restrukturisasi.

"Pada kesempatan ini, kami ingin menyampaikan bahwa pada tanggal 6 Desember 2021, Pengadilan Niaga Semarang telah memutuskan untuk memperpanjang proses PKPU selama 50 hari hingga 25 Januari 2022. Dengan diperpanjangnya proses PKPU ini, kami berharap dapat mensukseskan proses restrukturisasi dan memberikan solusi terbaik bagi seluruh pemangku kepentingan," demikian bunyi keterbukaan informasi tersebut seperti dikutip, Senin (6/12/2021).

Perusahaan menjelaskan, pada 2 Desember 2021 lalu telah mengumumkan rencana untuk melakukan voting terhadap proposal perdamaian yang telah diberikan kepada seluruh kreditur. Namun, beberapa kreditur mengajukan perpanjangan PKPU pada pertemuan rapat kreditur yang diadakan pada 2 Desember 2021.

"Sesuai dengan komitmen kami untuk mendapatkan jalan terbaik bagi seluruh stakeholder, dan memastikan bahwa seluruh suara kreditur dapat diakomodir dalam proses PKPU ini, kami mendukung konsensus yang telah dicapai, yaitu untuk memperpanjang proses PKPU sesuai dengan permintaan para kreditur dan menunggu keputusan dari majelis hakim," tulis keterbukaan informasi itu lebih lebih lanjut.

Mengutip CNBC Indonesia, perusahaan saat ini memiliki kewajiban yang diajukan restrukturisasinya kepada kreditur senilai Rp 20 triliun, atau tepatnya Rp 19,96 triliun.

Dalam proposal perdamaian perusahaan, utang tersebut terdiri dari pinjaman bilateral senilai Rp 5,87 triliun dalam rupiah, dalam dolar Amerika Serikat sebesar US$ 178,95 juta dan dalam euro senilai € 7,5 juta. Lalu pinjaman sindikasi senilai US$ 350,02 juta dan utang obligasi global sebesar US$ 375 juta.

(acd/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT