ADVERTISEMENT

Pasar Modal Dicap Tempat Startup Panen Cuan, Begini Kata Bos BEI

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 13 Apr 2022 12:02 WIB
Pekerja berjalan dengan latar belakang layar pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (8/4/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari Jumat (8/4) sore ditutup naik 83,46 poin atau 1,17 persen menembus level  7.210. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.
Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA
Jakarta -

Pasar modal disebut menjadi salah satu tempat perusahaan startup untuk meraup cuan, atau biasa dikenal dengan exit strategy. Kondisi ini juga disebut bisa menjadi pertimbangan pelaku pasar yang ingin membeli saham sebuah perusahaan.

Menanggapi hal tersebut, Komisaris Bursa Efek Indonesia Pandu Sjahrir membantahnya. "Jujur kalau exit strategy paling gampang itu adalah dibeli perusahaannya. Bukan going IPO," kata dia kepada detikcom, Rabu (13/5/2022).

Dia mengungkapkan, jika sebuah perusahaan memutuskan IPO ini artinya ada visi atau rencana ke depan agar perusahaan menjadi lebih besar. "Kalau IPO berarti Anda ingin lebih besar lagi dari itu, tapi kalau mau cash out ya jual perusahaan," jelasnya.

Pandu menyebutkan, pasar modal bukanlah tempat yang paling efisien untuk melakukan exit strategy ini. "Kalau mau ngomong efisiensi ya jual aja perusahaannya," jelas dia.

Dia memprediksi ke depan akan banyak perusahaan teknologi yang mengincar lantai bursa. Apalagi dengan suksesnya IPO GoTo dan ini akan menarik minat perusahaan dan minat investor.

Dia juga menjelaskan terkait investasi pada instrumen saham. Saat ini, kebanyakan orang Indonesia ingin naiknya cepat dan kaya lebih cepat. Padahal investasi seharusnya bisa berjalan stabil.

"Menurut saya investasi itu harus banyak belajar dan tidak ada yang instan," imbuh dia.

Pandu mencontohkan, untuk saham-saham yang dikeluarkan perusahaan harus dilihat seberapa dekat interaksinya dengan para investor. Lalu investor juga harus melihat bagaimana potensi pasarnya ke depan.

Untuk saham teknologi kini memang menjadi potensi besar baru di Indonesia. Ke depan potensi pasarnya akan semakin besar. Karena itu perusahaan-perusahaan harus membuat nilai tambah baru untuk menggunakan teknologi dan memberi nilai kepada para penggunanya.

"Contoh kalau dari sisi bisnis fintech, bagaimana bisa membuat pinjaman lebih mudah, misalnya pinjaman rumah, pinjaman kerja sehari hari atau pinjaman yang lebih murah, transparan dan cepat," jelas dia.

(eds/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT