Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data perdagangan hari ini, Senin (19/1), IHSG menguat 0,25% ke level 9.098,22 sementara rupiah bergerak sebaliknya, melemah 0,22% di posisi Rp 16.927.
Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa mengatakan IHSG dan rupiah bergerak dengan sentimen yang berbeda. Menurutnya, pergerakan rupiah kuat dipengaruhi oleh sentimen arah suku bunga global, utamanya bank sentral Amerika Serikat (AS). Terlebih jika dolar AS menguat dan arus modal asing melemah.
"Menurut saya penguatan IHSG di tengah pelemahan rupiah terbilang wajar karena kedua instrumen ini digerakkan oleh faktor yang berbeda. Nilai tukar rupiah sensitif terhadap arah suku bunga global terutama AS, kekuatan USD dan arus modal asing," ungkap Reydi kepada detikcom, Senin (19/1/2026).
Baca juga: IHSG Masih Betah di Level 9.000 |
Sementara IHSG, bergerak berdasarkan faktor ekonomi domestik dan kinerja emiten yang menjadi konstituen pasar modal. Menurutnya, perbedaan nasib antara keduanya mencerminkan sikap investor yang lebih selektif memilih aset yang memiliki eksposur terhadap dolar AS.
Ia mengingatkan, pelemahan IHSG dapat berdampak pada menurunnya imbal hasil atau yield obligasi domestik. Selain itu, kondisi ini dapat melemahkan sektor keuangan yang lebih luas.
"Yang perlu dicermati apabila pelemahan rupiah berlanjut dan melemah terlalu dalam, hal ini akan merembet ke yield obligasi, ekspektasi suku bunga dan tentu akan berpotensi menekan sektor keuangan secara lebih luas," jelasnya.
Baca juga: Dolar AS Ngamuk Tembus Rp 16.917! |
Volatilitas Pasar Negara Berkembang
Dihubungi terpisah, Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan emerging market seperti Indonesia memiliki karakteristik dengan volatilitas yang tinggi. Menurutnya, pasar keuangan Indonesia juga masih belum solid dan mapan.
"Pasar EM memang karakteristik sebagai pasar yang volatile dan belum bisa dikategorikan solid atau mapan, secara market cap IHSG yang masih di bawah US$ 1 triliun juga masih tergolong kecil," jelasnya.
Lukman menambahkan, IHSG ditopang saham-saham spekulatif dibanding emiten-emiten blue chip. Meski begitu, harga saham Indonesia secara umum lebih rendah seiring melemahnya rupiah terhadap dolar AS.
"Sebenarnya pelemahan rupiah membuat harga saham-saham di Indonesia menjadi lebih murah dalam dolar AS. Namun kenaikan pada IHSG cenderung mendompleng sentimen risk on global. Namun, kenaikan IHSG lebih banyak didukung oleh saham-saham spekulatif, sedangkan blue chip umumnya hanya sedikit lebih tinggi," pungkasnya.
Simak juga Video 'IHSG Bertahan di Area 8.900':
(ahi/ara)