Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA tercatat mengalami tren net sell atau aksi jual yang dilakukan investor asing. Berdasarkan data perdagangan RTI Business, tercatat net sell yang dilakukan asing pada saham BBCA sebesar Rp 4,95 triliun sepanjang 2026.
Kemudian hingga penutupan perdagangan hari ini, Selasa (27/1/2026), saham BBCA tercatat melemah 1,96% ke harga Rp 7.500 per lembar. Jika ditarik sepanjang tahun 2026 ini, saham BBCA terkoreksi hingga 7,12%.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menjelaskan transaksi investor asing dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global dan domestik. Pasalnya, hampir 80% pemegang saham perseroan merupakan investor asing.
"Kalau harga saham memang normal kalau saham itu naik turun, karena 70% sampai 80% itu investor asing, porsi yang free float ya, ini memang tergantung situasi di global dan situasi investor juga," ungkap Lembong dalam konferensi pers virtual, Selasa (27/1/2026).
Baca juga: BCA Cetak Laba Rp 57,5 T di 2025 |
Ia memastikan perusahaan akan menjaga kinerja sebaik-baiknya. Lembong pun enggan berasumsi apakah harga saham perseroan saat ini prospek untuk dibeli para investor.
"Agak sulit untuk dijawab apakah ini saatnya beli atau tidak. Karena ini tergantung bagaimana para investor asing melihat prospek ekonomi Indonesia ke depannya," imbuhnya.
Sebagai informasi, BBCA membukukan pertumbuhan laba bersih 4,9% menjadi sebesar Rp 57,5 triliun sepanjang tahun 2025. Pertumbuhan ini ditopang oleh naiknya pendapatan operasional sebesar 5,4% yoy dan membaiknya Cost-to-Income Ratio (CIR) BCA.
Sementara untuk dana pihak ketiga (DPK) perseroan mencatat pertumbuhan hingga 10,2% yoy mencapai Rp 1.249 triliun. Kemudian penyaluran kredit, BBCA mencatat pertumbuhan sebesar 7,7% yoy menjadi Rp 993 triliun hingga Desember 2025.
Di sisi pendanaan, dana giro dan tabungan (CASA) naik 13,1% yoy hingga Rp 1.045 triliun. Adapun kualitas kredit BCA dari rasio loan at risk (LAR) tercatat ke level 4,8% dibandingkan tahun sebelumnya di level 5,3%. Sementara rasio kredit bermasalah (NPL) tercatat pada level 1,7%. Sementara untuk pencadangan NPL serta LAR masing-masing sebesar 183,8% dan 71,6%.
Simak Video "BCA Terima Penghargaan atas Aksi Keberlanjutan sebagai Bank Unggul dan Berdampak"
(ahi/ara)