×
Ad

Rupiah Babak Belur Dihantam Dolar AS, BI Dinilai Serba Salah

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 23 Apr 2026 16:11 WIB
Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto
Jakarta -

Nilai tukar rupiah terus melanjutkan tren melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan itu membawa mata uang Paman Sam berhasil tembus level Rp 17.300-an/US$.

Peneliti senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan mengatakan pelemahan rupiah terjadi karena permasalahan struktural dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan instrumen moneter. Dalam kondisi ini BI dinilai serba salah.

"Menurut saya dari yang ada, memang BI serba salah karena ini dia sudah berusaha melakukan intervensi terhadap rupiah," kata Deni kepada detikcom, Kamis (23/4/2026).

Dari sisi kebijakan, BI dianggap sudah berada di jalur yang tepat dengan triple intervention dan menjaga stabilitas pasar keuangan. Hanya saja memang efektivitasnya terbatas karena ruang kebijakan semakin sempit, baik dari sisi suku bunga maupun cadangan devisa.

"Instrumen BI juga terbatas, mau gimana lagi? Paling kan intervensi rupiah secara langsung di pasar, tetapi kan nggak bisa intervensi terus-terusan karena cadangan devisanya bisa habis. Mau naikkan suku bunga mungkin dia juga sulit karena khawatirnya memperparah situasi," ucap Deni.

Deni menyebut masalah pelemahan rupiah saat ini bukan hanya akibat eksternal yang bisa diredam dari sisi moneter, tetapi juga masalah internal dari sisi fiskal. Banyak yang mengkhawatirkan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah kenaikan harga minyak dunia.

"Sampai saat ini pemerintah tidak melakukan adjustment terhadap harga BBM subsidi, khawatirnya akan terjadi peningkatan besaran subsidi di tengah ruang fiskal kita yang sudah terbatas karena utang tinggi, belanja besar, ditambah tekanan subsidi semakin besar sehingga perkiraan defisit akan membesar," jelas Deni.

"Itu memberikan kekhawatiran bagi pelaku pasar apakah pemerintah Indonesia mampu menjaga stabilitas dan kesehatan fiskalnya di tengah tekanan yang besar itu," tambahnya.

Senada, Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Rizal Taufikurahman mengatakan pelemahan rupiah ke level Rp 17.300 per dolar AS didorong kombinasi sentimen global dan domestik.

Dari global, penguatan dolar AS dinilai masih solid seiring suku bunga tinggi dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang memicu capital outflow dari emerging market. Dari domestik, tekanan disebut tidak kecil yakni mulai dari kebutuhan impor energi yang tinggi, persepsi risiko fiskal, hingga aliran devisa yang belum optimal masuk ke dalam negeri.

"Ini yang membuat rupiah relatif lebih tertekan dibandingkan beberapa negara peers, karena faktor fundamentalnya belum cukup kuat menjadi penahan guncangan," ungkap Rizal.

Dengan demikian intervensi yang sudah dilakukan BI disebut cenderung bersifat defensif, bukan ofensif. Tanpa dukungan kebijakan fiskal dan penguatan sektor riil, upaya stabilisasi dinilai akan terlihat jalan di tempat, meskipun instrumennya sudah optimal.

"Di titik ini problemnya bukan semata BI kurang agresif, tetapi tekanan yang dihadapi memang struktural dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan instrumen moneter," ucapnya.

Ke depan, Rizal menilai koordinasi kebijakan perlu diperkuat. Pemerintah harus mempercepat implementasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) untuk menambah suplai valas, menjaga kredibilitas fiskal agar persepsi risiko tidak memburuk, serta menekan ketergantungan impor energi yang selama ini menjadi sumber tekanan kronis pada rupiah.

"Tanpa langkah ini, intervensi BI hanya akan menjadi penahan sementara, bukan solusi permanen," tegas Rizal.

Kebijakan Fiskal RI Dipertanyakan

Pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan rupiah wajar karena kenaikan harga minyak dunia. Dari sisi BI disebut sudah cukup masif dalam melakukan intervensi.

"Ini sebenarnya yang dipermasalahkan adalah pemerintah, Kementerian Keuangan. Ini kan permasalahannya defisit anggaran, utang pemerintah jatuh tempo yang begitu besar, ini yang membuat rupiah melemah," tutur Ibrahim.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira juga mengatakan tekanan rupiah saat ini bukan hanya dari faktor eksternal. Ada juga faktor dari sisi fundamental ekonomi Indonesia yang dianggap sedang tidak baik-baik saja.

"Dipecatnya dua dirjen Kemenkeu itu juga jadi alasan alarm sebenarnya, berarti ada permasalahan dari sisi fiskal, pelebaran defisit anggaran, cashflow, pembayaran bunga utang, masalah yang terus menumpuk, gitu. Itu akan dibaca bahwa fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya sedang tidak baik-baik saja," ucap Bhima.

Menurut Bhima, masalah saat ini ada pada kepercayaan kebijakan fiskal. Di tengah kondisi akibat dampak konflik geopolitik global, banyak alokasi anggaran yang dinilai belum fokus menjawab kebutuhan saat ini.

"Jadi perbaikannya tidak hanya kerja keras dari BI, mungkin ke depan akan ada kenaikan suku bunga, tetapi itu kecil untuk bisa mengendalikan nilai tukar rupiah dan efek yang ditimbulkan kalau suku bunga dinaikkan adalah daya beli masyarakat dan pelaku usaha akan semakin tertekan. Jadi kuncinya dimana? Kuncinya itu trust dimulai dari manajemen fiskal," jelas Bhima.

Lihat juga Video 'Rupiah Babak Belur ke Level Rp 17.300 per Dolar AS':




(aid/fdl)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork