×
Ad

Imbal Hasil Surat Utang AS Sentuh Level Tertinggi Sejak 2007

Andi Hidayat - detikFinance
Kamis, 21 Mei 2026 12:16 WIB
Dolar AS /Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -

Imbal hasil atau yield obligasi Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan imbas meningkatnya persepsi kenaikan inflasi di Negeri Paman Sam. Hal ini turut mengancam kenaikan biaya pinjaman di seluruh perekonomian AS.

Dikutip dari CNN, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 30 tahun naik menjadi 5,2%. Angka ini merupakan level tertinggi sejak 2007 seiring meningkatnya kekhawatiran akan kenaikan harga yang terus-menerus akibat perang Iran.

Investor mempertimbangkan keuangan pemerintah AS yang dianggap tidak berkelanjutan seiring naiknya kekhawatiran tentang suku bunga The Fed. Akumulasi ini mendorong investor keluar dari obligasi Treasury.

Perang antara AS dan Iran memicu guncangan energi global. Hal ini mulai berdampak pada sektor ekonomi lainnya, termasuk harga pangan dan tiket pesawat.

"Pasar obligasi memperingatkan bahwa inflasi bisa jadi jauh lebih sulit dikendalikan daripada yang diantisipasi banyak investor," kata CEO di deVere Group, Nigel Green, dikutip dari CNN, Kamis (21/5/2026).

Imbal Hasil Obligasi AS

Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun yang berpengaruh pada suku bunga hipotek juga tercatat naik menjadi 4,67%, level tertinggi dalam lebih dari setahun. Obligasi sensitif terhadap inflasi, dan investor menuntut imbal hasil yang lebih tinggi untuk mengimbangi risiko kenaikan harga konsumen yang menggerus keuntungan.

Peran pasar obligasi pemerintah membantu menetapkan biaya pinjaman di seluruh perekonomian. Imbal hasil yang lebih tinggi dapat berdampak pada kenaikan suku bunga hipotek, pinjaman mobil, dan suku bunga pinjaman usaha.

Imbal hasil yang lebih tinggi juga dapat menjadi hambatan bagi pasar saham. Namun, obligasi AS bukan satu-satunya yang terdampak perang.

Investor di seluruh dunia telah menjual obligasi karena kekhawatiran inflasi. Sementara itu, kecemasan tentang belanja pemerintah dan defisit yang terus berlanjut juga mendorong investor untuk menuntut imbal hasil yang lebih tinggi.

Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 30 tahun misalnya, saat ini telah mencapai level tertinggi sejak 1998. Sedangkan imbal hasil obligasi Jepang tenor 30 tahun juga naik mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.

Pasar saham dalam kondisi ini juga tercatat anjlok sebelum kembali mencapai rekor tertinggi. Namun hingga kini, pasar obligasi tidak pernah pulih.

Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun diperdagangkan sedikit di bawah 4% sebelum perang dengan Iran dimulai. Kemudian saat ini, obligasi tersebut naik dengan yield mendekati 4,7% karena aksi jual semakin meningkat dalam sesi perdagangan terakhir.

Lonjakan biaya pinjaman memperburuk kekhawatiran tentang volatilitas pasar global. Imbal hasil yang lebih tinggi dapat menimbulkan masalah bagi saham karena suku bunga yang lebih tinggi mengubah perhitungan nilai saham.

Saham AS sempat mengalami penurunan pada Selasa (19/5) kemarin. Dow Jones turun 322 poin, atau 0,65%. Sementara S&P 500 turun 0,67%, dan Nasdaq merosot 0,84%. S&P dan Nasdaq diketahui mencatat kerugian hari ketiga berturut-turut karena imbal hasil yang lebih tinggi telah menekan pasar saham.

Imbal hasil obligasi Treasury tenor dua tahun juga melonjak ke level tertinggi. Hal ini mencerminkan harapan investor agar The Fed mempertahankan suku bunga saat ini atau ditingkatkan dalam beberapa bulan mendatang.

Kenaikan imbal hasil ini bertentangan dengan preferensi Presiden AS, Donald Trump, yang menghendaki suku bunga yang lebih rendah. Hal ini juga terjadi bersamaan dengan ditetapkannya Kevin Warsh, sebagai pimpinan bank sentral AS.

Simak juga Video 'Dolar AS Tembus Rp 17.700, Apa Mungkin Bakal Mengulang Memori 98?':




(ahi/ara)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork