×
Ad

Purbaya Targetkan Dolar AS ke Rp 15.000, Masuk Akal?

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 29 Mei 2026 13:23 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa / Foto: Ilyas Fadilah/detikcom
Jakarta -

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) semakin menguat terhadap rupiah. Terakhir, mata uang Paman Sam pagi ini perkasa di hadapan rupiah sebesar 0,04% menjadi Rp 17.853.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan akan mendorong nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat ke level Rp 15.000. Hal ini disampaikan saat mata uang Garuda masih terpantau tinggi di level Rp 17.698 per dolar AS.

"Kita akan dorong rupiah ke arah Rp 15.000. Kalau kata Pak Presiden, 'Purbaya senyum, ekonomi aman.' Ini senyum terus nih," ujar Purbaya dalam acara Jogja Financial Festival 2026, Jumat (22/5/2026).

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, mengatakan sejak tahun 2008 sampai hari ini, kecil kemungkinan saat nilai tukar rupiah terhadap dolar sudah mengalami depresiasi atau pelemahan, nilainya akan kembali menguat secara signifikan hingga ke level beberapa tahun sebelumnya.

Alih-alih mengalami penguatan, ia menilai saat ini mata uang Garuda masih mengalami tekanan dan terus mengalami pelemahan. Bahkan diperkirakan bisa tembus ke level di atas Rp 18.000 per dolar AS.

"Jadi hampir tidak mungkin ketika rupiah sudah tembus level psikologis 17.000 dan 18.000 maka dia akan kembali lagi ke level 15.000," kata Bhima kepada detikcom, Jumat (29/5/2026).

Lebih lanjut, ia menjelaskan pelemahan nilai tukar rupiah ini banyak didorong oleh sentimen negatif para investor, khususnya asing, atas kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini. Salah satunya soal rencana ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI.

Kemudian ada juga kebijakan terkait ekspor lainnya, yakni penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) 100% di perbankan BUMN alias Himbara yang juga dinilai belum tentu bisa menyelesaikan masalah devisa negara.

"Bahkan kebijakan-kebijakan seperti DHE ditahan itu juga akan memicu peralihan, dan ini sudah terlihat banyak yang sedang berjaga-jaga dengan menjual rupiah dan masuk ke deposito valas, masuk ke deposito dolar Amerika Serikat," terang Bhima.

"Artinya permintaan dolar baik dari sisi pelaku usaha maupun rumah tangga itu meningkat. Nah ini jadi tidak bisa diselesaikan dengan DHE wajib masuk kemudian badan ekspor nasional atau DSI. Masalahnya bukan di situ," ujarnya lagi.

Sehingga dengan kondisi saat ini, menurutnya hampir tidak mungkin mata uang Garuda dapat kembali menguat ke level Rp 15.000 per dolar AS, apalagi dalam waktu dekat di tengah berbagai tekanan fiskal saat ini.

"Jadi tidak mungkin target berubah rupiah bisa kembali lagi ke 15.000 terhadap dolar gitu ya atau dolarnya kembali ke Rp 15.000," tandasnya.

Sementara itu, analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi turut menilai target rupiah kembali menguat hingga ke level Rp 15.000 terhadap dolar AS juga mustahil untuk tercapai. Terlebih di tengah dinamika geopolitik serta ekonomi domestik saat ini.

"Ya itu angan-angan. Setiap wawancara kan selalu bilang 'apakah bisa ke Rp 15.000?', 'Oh pasti bisa ke Rp 15.000'. Itu enteng untuk diucapkan," ujar Ibrahim.

Senada dengan Bhima, ia juga berpendapat saat ini rupiah akan terus tertekan hingga berpotensi tembus Rp 18.000 per dolar AS pekan depan. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, khususnya fundamental ekonomi Indonesia yang menurutnya masih memiliki sejumlah persoalan struktural yang salah satunya soal defisit neraca transaksi berjalan yang masih bergantung pada impor energi, terutama minyak mentah.

"Di APBN itu (harga minyak) US$ 70 per barrel, rupiahnya di 16.500. Tetapi sekarang rupiahnya sudah di angka anggap saja Rp 17.900, kemudian minyak mentahnya bukan di US$ 70 tapi di atas US$ 90. Pemerintah harus mengeluarkan dolar yang cukup besar. Sedangkan impor minyak mentah ini 85% itu larinya subsidi. Nah sehingga apa? Ini beban, tekanan bagi pemerintah untuk menutupi defisit ini," tutur Ibrahim.

Belum lagi dari sisi pasar modal, banyak perusahaan-perusahaan asing di Tanah Air perlu membagikan dividen atau bagi hasil keuntungan perusahaan terhadap pemilik saham. Hal itu membuat permintaan dolar dalam negeri ikut naik yang kemudian mendorong pelemahan rupiah lebih jauh.

Sementara itu, dari pasar logam mulia, Ibrahim menyebut harga emas dunia masih bergerak fluktuatif di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Sementara nilai dolar terhadap rupiah terus menguat, mendorong investor memindahkan aset mereka dari emas ke dolar untuk mencari keuntungan dari momentum pelemahan mata uang Garuda ini.

"Dana yang tadinya mereka investasikan di logam mulia, di emas digital, mereka pindahkan. Kenapa? Momentum untuk mendapatkan keuntungan secara jangka pendek itu ada di indeks dolar, bukan di logam mulia," ujarnya.

Masih belum cukup, kebijakan pemerintah terbaru terkait rencana ekspor satu pintu melalui BUMN baru, Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI, membuat investor asing banyak meragukan kepastian regulasi di Indonesia. Pada akhirnya membuat mereka banyak beralih ke negara lain.




(igo/fdl)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork