×
Ad

Ini Sederet Dampak Buruk Dolar AS Tembus Rp 18.200

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 29 Mei 2026 14:12 WIB
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Nilai tukar rupiah diprediksi masih berada dalam tekanan hingga awal pekan depan. Bahkan besar kemungkinan mata uang Paman Sam dapat tembus hingga ke level Rp 18.000.

"Untuk harga rupiah dalam minggu ini kalau tidak kena minggu depan ya itu Rp 18.000 sudah di depan mata. Karena saya melihat kalau Rp 18.000 ini tembus, kemungkinan besar ya ini akan menuju di Rp 18.200," kata analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi kepada detikcom, Jumat (29/5/2026).

Masalahnya jika nilai dolar sudah tembus Rp 18.000, kondisi ini akan menimbulkan efek domino atau masalah berantai. Salah satunya mulai dari dampak psikologis kepada para investor baik dalam dan luar negeri serta para pelaku pasar untuk 'meninggalkan' rupiah demi mengamankan nilai aset mereka.

"Walaupun dolar mengalami pelemahan, tetapi tidak berdampak terhadap penguatan mata uang rupiah. Rupiah terus mengalami pelemahan," ujarnya.

"Pada saat masyarakat melihat bahwa peluang untuk dolar yang terus mengalami penguatan, membuat masyarakat itu mengalihkan tabungannya dari tabungan konvensional ke tabungan valuta asing," sambung Ibrahim.

Bersamaan dengan itu, jika nilai rupiah terus melemah, kondisi ini akan sangat mempengaruhi harga komoditas utamanya produk impor jadi maupun produk-produk dengan bahan baku utama dari luar negeri.

Sebagai contoh, Ibrahim mengatakan saat ini mayoritas kedelai di Indonesia berasal dari impor. Jika nilai rupiah melemah, tentu harga kedelai dalam negeri akan semakin mahal. Alhasil produk-produk hasil olahan kedelai akan ikut mengalami kenaikan.

"Kita melihat bahwa dampak dari pelemahan mata uang rupiah, ini semua harga-harga itu mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Nah kenaikan inilah yang membuat masyarakat menjerit," papar Ibrahim.

Senada, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menilai nilai tukar rupiah akan terus mengalami pelemahan. Sehingga besar kemungkinan dolar akan semakin 'ngamuk' hingga tembus ke level Rp 18.000.

Jika kondisi ini benar terjadi, terdapat risiko yang cukup besar terhadap perekonomian Indonesia ke depan. Salah satunya adalah membuat harga barang impor menjadi lebih mahal.

Tak hanya dari sisi produk impor yang akan semakin mahal, biaya logistik atau transportasi pengiriman barang ini juga ikut menjadi beban tambahan. Padahal produk atau komoditas impor ini bisa jadi bahan baku produksi dalam negeri.

Pada akhirnya kondisi ini membuat modal produksi dalam negeri menjadi meningkat. Sehingga kemudian harga barang di tingkat konsumen akan ikut mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

"Nah efek dari ekonomi Indonesia kalau dolarnya menembus Rp 18.000, yang jelas transmisi antara biaya bahan baku dan biaya produksi yang naik kepada harga-harga retail di level masyarakat dan rumah tangga akan semakin cepat gitu," kata Bhima.

Ia mengatakan selama ini kenaikan harga imbas perubahan nilai tukar tidak secara langsung dirasakan. Sebab biasanya para pelaku usaha akan berusaha semaksimal mungkin untuk menekan harga jual produk guna menjaga daya beli.

Sehingga muncul jeda atau lebih dikenal dengan istilah 'lag' dari perubahan nilai tukar terhadap harga produk akhir di tingkat konsumen. Namun saat nilai tukar sudah turun terlalu drastis, maka mau tak mau para pengusaha harus mengikuti perubahan harga.

"Tadinya ada lag ya, misalnya 2-3 bulan, tapi sekarang semakin melemah maka pelaku usaha juga akan mengganti price list atau daftar harga barang-barang yang dijual lebih cepat lagi," paparnya.

"Ini yang membuat ketidakpastian tinggi sehingga transmisi ke masyarakat dalam bentuk harga-harga barang yang lebih mahal, imported inflation atau inflasi yang didorong karena biaya impor semakin mahal ya. Itu makin menekan daya beli masyarakat terutama kelompok menengah ke bawah," sambung Bhima.

Jika kondisi ini terus berlanjut, besar kemungkinan perusahaan terutama yang bergerak di sektor padat karya dengan bahan baku utama dari impor, akan mulai melakukan efisiensi alias PHK massal. Kondisi ini dapat mendorong pelemahan daya beli masyarakat.

Bersamaan dengan itu, saat nilai tukar dolar terhadap rupiah terus melemah bahkan jika tembus Rp 18.000, hal ini akan mendorong pelaku pasar untuk beralih ke mata uang Negeri Paman Sam. Mempercepat pelemahan mata uang Garuda.

"Yang dilakukan oleh masyarakat, kelas menengah ke atas berjaga-jaga terhadap situasi yang terus memburuk dengan membeli dolar AS. Makin menekan, jadi ada spiral down effect di mana kecenderungan untuk menjual rupiah dan membeli dolar AS itu akan menekan nilai tukar rupiah lebih dalam lagi," ujarnya.

Pada akhirnya menurut Bhima pihak yang paling dirugikan adalah masyarakat dari kelompok pekerja atau kelas menengah. Sudah harga komoditas makin mahal, kini dapat ancaman PHK yang berpotensi memutus pendapatan, sementara nilai tukar dolar terus merangkak naik imbas aksi beli kelompok 'orang tajir'.

"Sementara kelompok menengah ke bawahnya hampir dipastikan tidak punya persiapan ketika rupiahnya menembus 18.000. Masyarakat menengah ke bawah lah yang sebenarnya paling dirugikan saat ini karena mereka hampir tidak lagi memiliki tabungan hidupnya sudah dari pinjaman dan sekarang sudah mode survival bahkan di kelompok menengah," jelasnya.

"Nah inilah saya kira angka kemiskinan bisa kembali meningkat, angka pengangguran kembali naik, dan semakin banyak pekerja di sektor informal yang sebenarnya rapuh. Nah itu efek dari dolar sentuh Rp 18.000," pungkas Bhima.




(igo/fdl)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork