PT TEMAS Tbk (TMAS) membagikan dividen tunai sebesar Rp 228 miliar atau Rp 4 per saham untuk tahun buku 2025. Nilai tersebut setara dengan sekitar 40% laba bersih perseroan.
Direktur Utama PT TEMAS Tbk Ricky Effendi mengatakan pembagian dividen tersebut telah mendapat persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).
Perseroan memiliki kebijakan membagikan dividen kas kepada pemegang saham sekurang-kurangnya sekali dalam setahun. Sesuai kebijakan perusahaan, rasio pembayaran dividen terhadap laba bersih tahun berjalan sebesar 30% apabila laba bersih melebihi Rp 30 miliar.
"Untuk Tahun Buku 2025, besaran dividen telah mendapat persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST)," kata Ricky dalam Paparan Publik usai RUPST di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Selain membagikan dividen, TMAS menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 2,5 triliun pada 2026. Dana tersebut akan digunakan untuk pembelian kapal baru, peremajaan armada, pengadaan alat penunjang pelabuhan, serta pembangunan infrastruktur pelabuhan.
Direktur Business Development PT TEMAS Tbk Ganny Zheng mengatakan perseroan akan melanjutkan ekspansi kapasitas untuk mendukung pertumbuhan bisnis.
"TMAS terus memperkuat ekspansi bisnis di tengah pertumbuhan industri angkutan kontainer nasional. Untuk mendukung pengembangan kapasitas operasional, TMAS menyiapkan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp2,5 triliun pada tahun 2026," ujar Ganny.
Menurutnya, fokus perusahaan pada tahun depan adalah meningkatkan kapasitas layanan dan efisiensi operasional.
"Memasuki tahun 2026, Perseroan berkomitmen melanjutkan ekspansi armada sebagai bagian dari strategi skalabilitas operasional. Fokus utama kami adalah meningkatkan kapasitas layanan sekaligus menjaga efisiensi dan daya saing perusahaan," lanjut Ganny.
TMAS juga menyiapkan operasional pabrik LNG yang ditargetkan mulai beroperasi pada semester II-2026. Selain itu, perusahaan melanjutkan kerja sama build operate transfer (BOT) dengan PT Pelindo Terminal Petikemas untuk memperluas dermaga di Tanjung Priok dari 340 meter menjadi 485 meter.
"Perseroan juga tengah mempersiapkan operasional pabrik LNG yang ditargetkan mulai beroperasi pada semester II-2026. Selain itu, kami terus memperluas layanan logistik terintegrasi serta melanjutkan kerja sama BOT dengan PT Pelindo Terminal Petikemas untuk perluasan dermaga di Tanjung Priok dari 340 meter menjadi 485 meter sebagai fondasi kapasitas jangka panjang," jelas Ganny.
Pada 2026, TMAS menargetkan pendapatan jasa mencapai Rp 5,53 triliun atau tumbuh lebih dari 27% dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp 4,34 triliun. Target tersebut akan didorong melalui pembukaan rute baru dan peningkatan tingkat keterisian muatan (load factor) armada.
Sementara itu, sepanjang 2025 TMAS menambah tujuh kapal baru yang meningkatkan kapasitas angkut sebesar 17%. Total armada perusahaan kini mencapai 57 kapal dengan kapasitas angkut 28.542 TEUs dan bobot mati 464.701 DWT.
Rata-rata usia armada juga menurun dari 15 tahun pada 2023 menjadi 14 tahun pada 2024 dan 13 tahun pada 2025.
"Menghadapi tahun 2026, Perseroan optimistis dalam meneruskan pilar strategi yang telah dicanangkan, berbagai langkah strategis seperti penambahan/peremajaan armada baru dan pengembangan kapal ramah lingkungan terus dilanjutkan. Untuk tahun 2025, Perseroan telah menambah netto 7 (tujuh) armada kapal baru yang mendorong peningkatan kapasitas angkutan sebesar 17%. Total armada kini mencapai 57 unit kapal dengan kapasitas angkut 28.542 TEUs dan bobot mati 464.701 DWT. Selain itu, rata-rata usia armada juga semakin membaik, dari 15 tahun pada 2023 menjadi 14 tahun pada 2024 dan turun menjadi 13 tahun pada 2025," ujar Ricky.
Dari sisi kinerja, TMAS membukukan pendapatan jasa sebesar Rp 4,34 triliun pada 2025, naik tipis 0,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan domestik tercatat Rp 4,13 triliun, naik 2,5% dari Rp 4,03 triliun pada 2024.
Laba bersih perusahaan mencapai Rp 553 miliar, turun 23,3% dibandingkan Rp 722 miliar pada 2024. Penurunan laba dipengaruhi tidak adanya keuntungan pelepasan aset tetap seperti pada tahun sebelumnya serta kenaikan biaya akibat volatilitas harga bahan bakar bunker.
Di sisi lain, total aset TMAS naik 19,9% menjadi Rp 5,29 triliun dari Rp 4,41 triliun pada 2024.
Terkait kondisi global, perusahaan menyatakan terus memantau perkembangan geopolitik, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga bahan bakar dan rantai pasok.
"Kualitas layanan dan keselamatan armada tetap menjadi prioritas utama Perseroan mengacu pada standar industri pelayaran nasional maupun internasional," tegas Ricky menambahkan.
Simak Video "Video: Kevin Sanjaya Diangkat Jadi Direktur di Perusahaan Hary Tanoe"
(fdl/fdl)