×
Ad

2 Pemicu Rupiah Gencet Dolar AS ke Rp 17.700-an

Andi Hidayat - detikFinance
Senin, 15 Jun 2026 15:31 WIB
Foto: Andhika Prasetia/detikFoto
Jakarta -

Nilai tukar rupiah menguat dihadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Senin (15/6/2026). Penguatan mata uang Indonesia ini didorong oleh sentimen global dan bauran kebijakan otoritas moneter dan fiskal.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berhasil menguat terhadap dolar AS sebesar 0,85% ke level Rp 17.708 hingga penutupan perdagangan hari ini. Sebelum penutupan perdagangan, rupiah juga sempat menekan dolar AS ke level Rp 17.673,5 atau menguat 1,04% sekitar pukul 11.26 WIB.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menjelaskan dua sentimen utama yang mendorong posisi rupiah saat ini. Pertama, respons positif atas perjanjian damai antara AS dan Iran yang mendorong turunnya harga minyak mentah dunia.

Sutopo mengatakan, turunnya harga minyak mentah dunia menjadi katalis positif penting bagi Indonesia yang berstatus sebagai net importir. Selain itu, anjloknya harga minyak juga menurunkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan prospek neraca perdagangan Indonesia.

"Pada perdagangan hari ini utamanya digerakkan oleh faktor global, yaitu tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Pengumuman dibukanya kembali Selat Hormuz ini secara instan meruntuhkan permintaan Dolar AS sebagai aset safe-haven dan menyeret Indeks Dolar (DXY) turun ke area 99.5," ungkap Sutopo kepada detikcom, Senin (15/6/2026).

Kedua, sentimen domestik dari langkah Bank Indonesia (BI) yang memutuskan mengerek suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 75 basis poin sejak bulan Mei. Kebijakan ini disebut ampuh dalam menjaga daya tarik imbal hasil (yield) aset dalam negeri.

Sutopo mengatakan, kenaikan suku bunga acuan ini menjadi fondasi kuat untuk menjaga rupiah. Tanpa kebijakan agresif tersebut, rupiah disebut tidak akan cukup kuat memanfaatkan momentum pelemahan indeks dolar AS.

"Tanpa adanya 'benteng' kenaikan suku bunga yang mendahului kurva (ahead of the curve) ini, Rupiah tidak akan memiliki pijakan yang cukup kuat untuk memanfaatkan momentum pelemahan Dolar AS secara maksimal seperti yang kita lihat sejak pembukaan pagi tadi," terangnya.

Selain itu, kejelasan regulasi ekspor juga menjadi sentimen yang menopang penguatan rupiah. Menurutnya, kepastian sentralisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) tidak akan mengganggu kontrak komoditas berjalan berhasil memulihkan kepercayaan investor asing.

"Alhasil, kombinasi antara meredanya tekanan eksternal dan kuatnya fundamental di dalam negeri menciptakan ruang likuiditas yang besar bagi Rupiah untuk mengalami penguatan signifikan hari ini," imbuhnya.

Rupiah Diramal Sentuh Rp 17.500

Dihubungi terpisah, Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan ruang penguatan rupiah ke level Rp 17.500 terbuka pekan ini. Ruang ini didukung oleh kembalinya investor asing dan kuatnya fundamental ekonomi Indonesia.

Keputusan menaikan suku bunga acuan juga menjadi momentum bagi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk masuk di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Adapun saat ini yield SBN tenor 10 tahun berada di posisi 7,4%.

"Sangat terbuka sekali (Rp 17.500), karena hari ini pun juga kita lihat penguatan sudah 181 point kan. Artinya apa? Bahwa penguatan cukup tajam, kemudian dolar pun terjadi gap down, kemudian harga minyak pun juga gap down," ungkap Ibrahim.

Di sisi lain, turunnya harga minyak dunia dan pelemahan indeks dolar AS mendorong investor kembali beralih ke aset safe haven seperti logam mulia. Ibrahim mengatakan, harga emas dunia juga mengalami kenaikan seiring turunnya harga minyak dunia.

Ibrahim mengatakan, pelemahan dolar AS hari ini terjadi hampir pada seluruh mata uang dunia menyusul kesepakatan damai AS dan Iran. Perjanjian damai tersebut rencananya akan dilakukan pada pekan depan.

"Ya, kemungkinan besar ini akan terus reli, ya kemungkinan besar akan menuju di level Rp 17.500," pungkasnya.




(acd/acd)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork