Market Overview
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada perdagangan Rabu (8/7). IHSG turun 1,89% ke level 5.873,37 seiring meningkatnya tekanan jual di sejumlah saham berkapitalisasi besar dan aksi jual investor asing.
Data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan net sell sebesar Rp674,26 miliar di pasar reguler dan Rp689,33 miliar di seluruh pasar. Di sisi lain, saham TLKM, JECX, dan ENRG menjadi pendorong utama pergerakan indeks, sedangkan pelemahan BBCA, BBRI, dan AMMN memberikan tekanan terbesar terhadap IHSG.
Mayoritas sektor juga ditutup terkoreksi. Sebanyak 10 dari 11 sektor berada di zona negatif, dipimpin sektor Basic Industry yang melemah 4,35%. Sementara itu, sektor Health menjadi satu-satunya sektor yang mencatat kenaikan dengan menguat 1,00%.
Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat ditutup bervariasi. Indeks Dow Jones turun 1,09%, S&P 500 melemah 0,28%, sedangkan Nasdaq masih menguat 0,20%.
Pelaku pasar turut mencermati keputusan S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) yang memasukkan Indonesia ke dalam 2027 Country Classification Watchlist. Evaluasi tersebut berkaitan dengan aspek transparansi kepemilikan saham, efektivitas keterbukaan informasi pemegang saham, serta implikasinya terhadap likuiditas pasar.
Jika berbagai aspek tersebut belum memenuhi hasil evaluasi dalam satu tahun setelah penerapan special measures, status Indonesia akan kembali ditinjau pada Country Classification Review 2027. Sentimen tersebut diikuti pelemahan indeks ETF EIDO sebesar 2,16% dan MSCI Indonesia sebesar 1,80%.
Berita Emiten
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS)
KRAS telah menyelesaikan pelepasan seluruh kepemilikannya di Krakatau Osaka Steel (KOS) kepada Osaka Steel Co., Ltd. (OSC). Transaksi yang berlaku efektif pada 29 Juni 2026 tersebut mencakup 14.000 saham Seri B, setara dengan 20,00% hak suara dan 14,00% dari total saham ditempatkan dan disetor penuh.
Melalui transaksi tersebut, KRAS memperoleh dana tunai sebesar USD14 juta atau sekitar Rp249,98 miliar berdasarkan kurs JISDOR 29 Juni 2026 sebesar Rp17.856 per dolar AS. Seluruh nilai transaksi telah diterima penuh, sehingga perseroan tidak lagi memiliki kepemilikan di KOS.
Divestasi ini berlangsung seiring membaiknya kinerja keuangan perseroan. Pada kuartal I-2026, KRAS mencatat laba bersih sebesar USD2,58 juta, berbalik dari rugi bersih USD46,90 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
PT Nusatama Berkah Tbk (NTBK)
NTBK berencana melakukan penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dengan target perolehan dana sebesar Rp500 miliar.
Perseroan merencanakan penggunaan dana tersebut untuk sejumlah agenda pengembangan. Sebesar 40% akan disalurkan sebagai tambahan modal kepada anak usaha Pilar Pratama Dinamika, 34% dialokasikan untuk pengembangan fasilitas assembling plant, 16% digunakan untuk mendukung pengembangan bisnis kendaraan listrik (EV), sementara 10% sisanya dipersiapkan untuk akuisisi perusahaan jasa pertambangan.
Selain itu, anak usaha NTBK menjalin kerja sama dengan Magma Capital Resources Private melalui MCR Bangun Persada dalam pengembangan perdagangan mineral dan batu bara. Kerja sama tersebut mencakup pemanfaatan armada truk listrik milik NTBK untuk aktivitas logistik dari kawasan tambang menuju pelabuhan, dengan potensi volume distribusi batu bara hingga 500 ribu metrik ton per bulan.
Rekomendasi Saham Hari Ini
PGAS - Buy 1410-1420 | TP 1440-1465 | SL 1340
AKRA - Buy 1300-1315 | TP 1330-1350 | SL 1240
MIDI - Buy 280-284 | TP 290-294 | SL 264
CMRY - Buy 4680-4700 | TP 4750-4820 | SL 4450
BSSR - Buy 4030-4040 | TP 4080-4140 | SL 3920
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.
(ang/ang)