Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 13 Feb 2014 12:25 WIB

Parah! 70% Bensin Premium Diimpor dan Paling Banyak dari Singapura

- detikFinance
Batam - Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) makin parah. Saat ini, bensin subsidi jenis premium ternyata 70% didapat dari impor. Naik dari tahun lalu yang persentasenya 65%.

"Sekarang 70% bensin premium itu saat ini dipasok dari impor, tahun lalu saja sudah 65%," ungkap Senior Vice President Marketing and Distribution PT Pertamina (Persero) Suhartoko ditemui di Batam, Kepulauan Riau, Kamis (13/2/2014).

Lalu bagaimana dengan solar subsidi? Suhartoko mengatakan, untuk solar, 40% hingga 50% pasokannya masih harus diimpor oleh Indonesia. Impor BBM memang makin tinggi karena kilang minyak di dalam negeri tidak bertambah, produksi minyak terus melorot, sementara tingkat konsumsi makin tinggi yang dilihat dari terus bertumbuhnya jumlah kendaraan bermotor.

"Kalau pertamax atau BBM non subsidi masih bisa diproduksi sendiri di kilang Pertamina, karena kebutuhannya belum terlalu banyak," katanya.

Suhartoko menambahkan, BBM yang diimpor berasal dari berbagai negara, tapi mayoritas masih didominasi dari Singapura.

"Impornya dari banyak negara, mulai Malaysia, Korea, Thailand dan lainnya, tapi paling banyak masih dari Singapura," tutupnya.

Seperti diketahui, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, sepanjang 2013 lalu, Indonesia mengimpor hasil minyak atau BBM dengan total US$ 28,56 miliar atau sekitar Rp 285 triliun, berjumlah 29,6 juta ton. Dari jumlah itu, nilai impor BBM dari Singapura adalah US$ 15,145 miliar atau sekitar Rp 151 triliun. Jumlah BBM yang diimpor Indonesia dari Singapura mencapai 29,6 juta ton.

Selain Singapura, berikut negara-negara yang BBM-nya sering dibeli oleh Indonesia sepanjang 2013:

  1. Malaysia, dengan niai US$ 6,4 miliar atau Rp 64 triliun. Jumlahnya 6,7 juta ton
  2. Korea Selatan, dengan nilai US$ 2,53 miliar atau sekitar Rp 25 triliun. Jumlahnya 2,7 juta ton
  3. Kuwait, dengan nilai US$ 906 juta atau sekitar Rp 9 triliun. Jumlahnya 1,07 juta ton
  4. Arab Saudi, dengan nilai US$ 709 juta atau sekitar Rp 7 triliun. Jumlahnya 735 ribu ton
  5. Qatar, dengan nilai US$ 538 juta atau sekitar Rp 5 triliun. Jumlahnya 562 ribu ton
  6. Uni Emirat Arab, dengan nilai US$ 367 juta atau sekitar Rp 3 triliun. Jumlahnya 371 ribu ton
  7. Taiwan, dengan nilai US$ 312 juta atau sekitar Rp 3 triliun. Jumlahnya 310 ribu ton
  8. Rusia, dengan nilai US$ 261 juta atau sekitar Rp 2 triliun lebih. Jumlahnya 277 ribu ton
  9. China, dengan nilai US$ 257 juta atau sekitar Rp 2 triliun lebih. Jumlahnya 245 ribu ton
  10. Sisanya dari negara lain, dengan nilai US$ 1,05 miliar atau Rp 10 triliun lebih. Jumlahnya 1,01 juta ton
(rrd/dnl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed